73. Memaafkan Budak atau Pelayan – 85


73. Memaafkan Budak atau Pelayan – 85

 

 

 

 

121/163. Dari Abu Umamah, dia berkata,

 

أقبل النبي صلى الله عليه وسلم معه غلامان فوهب أحدهما لعلي صلوات الله عليه وقال لا تضربه فأنى نهيت عن ضرب أهل الصلاة وإني رأيته يصلى منذ أقبلنا وأعطى أبا ذر غلاما وقال استوص به معروفا فأعتقه فقال ما فعل قال أمرتنى أن استوصى به خيرا فأعتقه

 

 

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang bersama dua ghulam (budak laki-laki), lalu salah satunya diberikan kepada Ali radhiallahu ‘anhu dan Rasulullah berkata, “Jangan engkau pukul dia, karena aku dilarang memukul orang yang ahli shalat dan aku melihat dia selalu shalat sejak datang kepada kami.” Lalu Nabi memberikan seorang budak laki-laki kepada Abu Dzar sambil berkata, “Berwasiatlah kebaikan kepadanya.” Lalu dia memerdekakannya, kemudian Nabi berkata, “Apa yang dia lakukan?” Abu Dzar menjawab, “Engkau telah memerintahkan agar berbuat baik kepadanya, maka aku memerdekakannya.”

 

 

Hasan, di dalam kitab Takhrijul Misykah (3365).

 

 

 

 

122/164. Dari Anas berkata,

  قدم النبي صلى الله عليه وسلم المدينة وليس له خادم فأخذ أبو طلحة بيدي فانطلق بي حتى أدخلنى على النبي صلى الله عليه وسلم فقال يا نبي الله إن أنسا غلام كيس لبيب فليخدمك قال فخدمته في السفر والحضر مقدمه المدينة حتى توفى صلى الله عليه وسلم ما قال لي عن شيء صنعته لم صنعت هذا هكذا ولا قال لي لشيء لم اصنعه إلا صنعت هذا هكذا

 

“Nabi sltallallahu ‘alaihi wasallam datang (ke Madinah) dan tidak mempunyai seorang pelayan, maka Abu Thalhah memegang tanganku, lalu pergi bersamaku menjumpai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian dia berkata, ‘Wahai Nabi Allah! sesungguhnya Anas adalah ghulam (seorang anak) yang cerdik dan pandai, karena itu biarkanlah dia melayanimu.'” Anas berkata, “Lalu aku melayani beliau sallallahu ‘alaihi wasallam dalam perjalanan dan ketika di rumahnya, semenjak beliau tiba di Madinah sampai wafatnya. Nabi shallallahu ‘alaihi   wasallam   tidak   pernah   berkata   (berkomentar)   kepadaku mengenai sesuatu yang aku kerjakan, “Mengapa engkau melakukan ini dan itu?” dan tidak pernah berkomentar kepadaku mengenai sesuatu yang belum aku kerjakan, “Mengapa engkau tidak melakukan ini dan itu?

 

Shahih, di dalam kitab Mukhtasharus Syama’il (296). (Bukhari, 55- Kitab Al Washaya, 25- Bab Istikhdamun fis-Safari wal Hadhari. Muslim, 43- Kitab Al Fadha% hadits 52)

Ikuti kajian hadits di atas

Download kajian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s