Bila seorang ma’mum mendapati imam dalam keadaan ruku’


Download Kajian Bulughul Maram

 

Download kajian

 

Transkrip kajian

Ma’asyiral muslimin rahimakumulloh

Kita kembali berkumpul di masjid Zaadul ma’ad dan kembali membahas tentang kitab Bulughul maram karya Ibnu Hajar Al-asqalani rahimahullohuta’ala

Dan pada pertemuan sebelumnya kita telah membahas hadits Ibn Abbas dan Anas bin Malik radhiallohu’anhuma tentang menyusun shaf dalam shalat, apabila shalat berjamaah terdiri dari satu makmum dan Imam dimana posisinya makmum dan juga apabila makmum seorang wanita telah di jelaskan oleh Anas bin Malik radhiallohu’anhu

Berkata Alhafidz Ahmad bin Ali bin Hajar Al-asqalani:

وَعَنْ أَبِي بَكْرَةَ رضي الله عنه أَنَّهُ اِنْتَهَى إِلَى اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ رَاكِعٌ, فَرَكَعَ قَبْلَ أَنْ يَصِلَ إِلَى اَلصَّفِّ, فَقَالَ لَهُ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ( زَادَكَ اَللَّهُ حِرْصًا وَلَا تَعُدْ )  رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ وَزَادَ أَبُو دَاوُدَ فِيهِ: ( فَرَكَعَ دُونَ اَلصَّفِّ, ثُمَّ مَشَى إِلَى اَلصَّفِّ )

Dari Abu Bakrah Radliyallaahu ‘anhu bahwa dia datang kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam ketika beliau ruku’. Lalu ia ruku’ sebelum mencapai shof. Maka Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda padanya: “Semoga Allah menambah semangatmu dan jangan mengulanginya.” Riwayat Bukhari. Abu Dawud menambahkan dalam hadits itu: Ia ruku’ di belakang shaf kemudian berjalan menuju shof.

Abu Bakrah Nufai’ ibn Harits ibn kaladah Atstsaqafi radhiallohu’anhu, ada yang mengatakan bahwa Al-haris itu bukanlah ayahnya, namun Al-harits itu adalah tuannya dari statusnya sebagai budak, adapun ayahnya adalah Masruh, maka penyebutan Nufai’ ibn Harits itu di nisbatkan kepada tuannya dan beliau termasuk diantara shahabat Nabi pilihan yang memiliki keteguhan dalam menjalankan syariat Alloh subhanahuwata’ala dan beliau termasuk shahabat yang menjauh dari fitnah ketika terjadi perselisihan diantara para shahabat radhiallohu’anhum. beliau yang meriwayatkan hadits:

عَن أَبِي بَكْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا تَوَاجَهَ الْمُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا وَكِلَاهُمَا يُرِيدُ أَنْ يَقْتُلَ صَاحِبَهُ فَقَتَلَ أَحَدُهُمَا الْآخَرَ فَهُمَا فِي النَّارِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا الْقَاتِلُ فَمَا بَالُ الْمَقْتُولِ قَالَ لِأَنَّهُ أَرَادَ قَتْلَ صَاحِبِهِ

Dari Abu Bakrah ia berkata; Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Apabila dua orang muslim saling berhadapan dengan pedangnya, sedangkan keduanya hendak membunuh lawannya, hingga salah satu dapat membunuh yang lain, maka keduanya masuk neraka.” Lalu ditanyakan; “Wahai Rasulullah, demikian yang membunuh (masuk neraka), lalu kenapa yang terbunuh juga?” Beliau bersabda: “Karena ia menginginkan untuk membunuh temannya.”

Hadits Abu bakrah yang pertama merupakan hadits yang shohih sebagaimana kita dengarkan bahwa hadits tersebut diriwayatkan oleh Al-imam Al-Bukhori rahimahulloh, dan hadits ini termasuk di antara hadits yang sangat penting dan ada beberapa hukum yang di bangun di atasnya sebagaimana yang akan kita jelaskan dalam pembahasan kita insyaAllohuta’ala.

Kandungan hadits ini menyebutkan bahwa Abu Bakrah terlambat dalam mendatangi shalat berjama’ah sehingga beliaupun ketika sampai di masjid telah mendapati Rasululloh sallallohu’alaihi wasallam dalam keadaan ruku’, dan di sebutkan dalam beberapa riwayat, karena riwayat ini di riwayatkan dari berbagai jalan yang menjelaskan bahwa Abu Bakrah masuk dalam keadaan ruku’ dan berjalan dalam keadaan ruku’ menuju shaf. Dan dalam riwayat yang lain di sebutkan bahwa Abu Bakrah radhiallohu ta’ala ‘anhu beliau tergesa-gesa dan tergopoh-gopoh ingin mendapatkan rakaat bersama Rasululloh Sallalaohu’alaihi wasallam maka pada saat beliau telah sampai ke masjid beliau telah mendapatkan Rasululloh sallallohu’alaihi wasallam bersama kaum muslimin telah ruku’, maka Abu Bakrah Radhiallohu ta’ala ‘anhu  beliau tidak ingin ketinggalan, maka beliaupun segera ruku’ kemudian setelah itu beliau mendekati shaf berjalan dalam keadaan ruku’ menuju shaf, maka setelah selesai salam Rasulloh sallallohu’alaihi wasallam mengatakan pada beliau

زَادَكَ اَللَّهُ حِرْصًا وَلَا تَعُدْ

Semoga Alloh subhanahuwata’ala menambah semangatmu dan jangan engkau ulangi”

Kata Nabi sallallohu’alaihi wasallam : Walaa ta’ud (jangan engkau mengulangi) ini menjadi perselisihan di kalangan para ulama yang perselisihan ini di bangun di atas hukum “apakah boleh melakukan sesuatu itu atau tidak?” sebagaimana yang akan kita jelaskan, bahwa para ulama berselisih dalam memahami hadits nabi “Walaa ta’ud”.

Sebagian para ulama memahami bahwa ucapan Nabi tersebut yaitu jangan kamu mengulangi terlambat ketika datang waktu shalat jama’ah

Pendapat kedua dari para ulama yaitu jangan kamu mengulangi yaitu ketika kamu berjalan masuk kedalam shaf sudah dalam keadaan ruku’, jangan kamu mengulangi perbuatan tersebut

Dan pendapat yang ketiga yaitu yang di maksud Walaa Ta’ud adalah jangan kamu mengulangi ketika kamu terburu-buru mendatangi shalatul jama’ah karena ingin mendapati shalat jama’ah maka tergesa-gesa dalam mendatanginya

dan masih banyak pendapat yang lainnya yang menjelaskan makna Walaa Ta’ud, namun tiga pendapat ini saja yang kita sebutkan yang mencakup pembahasan hadits ini.

Bagi siapa yang melihat jalur-jalur ini demikian juga adi kuatkan oleh penguat-penguat yang lain menunjukkan bahwa pendapat yang rajih bahwa yang di maksud dengan perkataan Nabi   وَلَا تَعُدْ “jangan kamu mengulangi” maksudnya jangan kamu mengulangi perbuatan tergesa-gesa, ini yang lebih mendekati kebenaran dan di kuatkan oleh banyak dari kalangan para ulama Al-hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani Ashshon’ani dalam subulussalam, Ibnu Utsaimin, Al-albani, Ibn Baz rahimakumullohuta’ala.

Mengapa kita menguatkan pendapat ini, maksud perkataan Nabi وَلَا تَعُدْ “jangan kamu mengulagi” yaitu jangan kamu mengulangi perbuatanmu tergesa-gesa ketika kamu mendatangi sholatul jamaah :

Alasan Pertama.

Sebab dalam mendatangi Jama’ah kita di anjurkan untuk tidak tergesa-gesa yang menyebabkan seseorang tersengal-sengal nafasnya, dan dalam riwayat Imam Bukhori dan Muslim dari Abu Hurairah berkata,

أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَلَا تَأْتُوهَا تَسْعَوْنَ وَأْتُوهَا تَمْشُونَ عَلَيْكُمْ السَّكِينَةُ فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا

Dari Abu Huroiroh berkata: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika shalat sudak ditegakkan (iqamatnya) janganlah kalian mendatnginya dengan tergesa-gesa. Datangilah dengan berjalan tenang. Maka apa yang kalian dapatkan shalatlah, dan mana yang ketinggalan sempurnakanlah.”

Tergesa-gesa atau berlari terdapat aturan tersendiri dalam hal ibadah seperti misalnya ketika sa’i kita di anjurkan untuk berlari-lari kecil ketika sampai di lembah antara sofa dan marwa.

apa yang kalian dapati dalam sholat maka maka sholatlah, lanjutkan sholat bersama imam dan apa yang tertinggal darinya maka sempurnakanlah, maka hikmahnya ketika kita mendatangi shalat dalam keadaan tenang adalah agar kemudian kita masuk kedalam shaf dalam keadaan tenang dan khusuk dalam mengerjakan shalat, oleh karena itu hadits Abu hurairah ini menguatkan pendapat bahwa ketika seseorang mendatangi sholat hendaknya mendatani shalat dengan keadaan tenang dan tidak terburu-buru

Kemudian alasan yang ke dua yang mengatakan bahwa yang di maksud dengan “jangan kamu mengulangi” yaitu jangan kamu mengulangi perbuatan mu ruku’ sebelum masuk shaf shalat, maka ini berkata pendapat yang ketiga bahwa ini adalah pendapat yang keliru dalam artian Rasululloh sallallahu’alaihiwasallam tidak mungkin beliau melarang  Abu Bakrah radhiallohuta’ala ‘anhu dari perbuatan beliau ruku’ sebelum masuk kedalam shaf di sebabkan karena riwayat-riwayat yang di sandarkan kepada Rasululloh sallallahu’alaihiwasallam dan yang masyhur dari kalangan ulamaussalaf menunjukkan bahwa perbuatan itu di bolehkan, perbuatan seseorang ketika imam dalam keadaan ruku’ dan ingin mendapati bersama imam ruku’ tapi dia belum sampai ke shaf maka di perbolehkan bagi dia sebelum sampai ke shaf dia telah ruku’, yaitu dengan syarat jarak antara dia melakukan ruku’ sampai menuju  ke shaf itu tidak terlalu jauh, jangan sampai ketika masih berada di ujung sana melihat imam telah ruku’ maka dia rukuk kemudian berjalan terus sampai ke shaf, na’am tapi mendekati, begitu mendekati shaf shalat maka dia ruku’, setelah dia rukuk kemudian sambil jalan mendekati shaf.

Hal ini telah di riwayatkan dalam beberapa atsar diantaranya hadits yang di riwayatkan oleh athtabrani dalam kitabnya Almu’jamul Ausath dari Ibn Juraij dari Atha’ Ibn Abi Rabah bahwa beliau mendengarkan Abdulloh ibn Zubair mengatakan, pada waktu itu dia mengatakan di atas mimbar beliau berkata:

“Apabila salah seseorang masuk kedalam masjid, dalam keadaan manusia sedang dalam keadaan ruku’ maka hendaknya dia ruku’ pada saat dia masuk untuk bergabung kemudian dia melangkah dalam keadaan ruku’ sampai dia masuk kedalam shaf, seungguhnya demikian tiu termasuk perbuatan sunnah”

Apabila seorang shahabat mengatakan ini adalah sunnah maka yang di maksud adalah sunnah Rasululloh sallallahu’alaihiwasallam, di sebutkan secara mutlak, demikian pula tabi’in yang mengatakan ini adalah sunnah maka yang di maksud adalah sunnah Rasululloh sallallahu’alaihiwasallam, namun hukum haditsnya mursal karena tabi’in meriwayatkan hadits langsung dari Nabi sallallohu’alaihi wasallam riwayatnya mursal, tapi shahabat  maka Ibnu zubair radhiallohuta’ala ‘anhu beliau mengatakan itu di atas mimbar tentunya banyak orang-orang yang menghadiri apa yang di sebutkan oleh Ibn Zubair.

Atha’ yang meriwayatkan hadits ini dari Ibnu Zubair beliau mengatakan ” sungguh aku telah melihat Ibn Zubair telah melakukan perbuatan itu”

Kata Ibnu Juraij yang meriwayatkan hadits ini dari Atha’ mengatakan “Sungguh aku telah melihat Atha’ beliau telah melakukan perbuatan itu”

Hal ini menunjukkan bahwa ini adalah amalan yang berantai bahwa para shahabat demikian pula para tabi’ain telah mengamalkan amalan ini, dan riwayat ini telah di shahihkan oleh para ulama, Al-albani rahimahullohuta’ala telah menyebutkan hadits ini dalam silsilah Al-ahadits Ashshohihah pada jilid yang pertama nomor hadits 229, dan ini yang di amalkan oleh para shahabat tambah lagi para shahabat seperti Abu bakar Ashshiddiq radhiallohuta’ala ‘anhu beliau mengamalkan amalan ini, Zaid bin tsabit radhiallohuta’ala ‘anhu sebagaimana yang di riwayatkan oleh Albaihaqi rahimahullohuta’ala bahwa ketika Abu bakar Ashsiddiq dan zaid bin tsabit bahwa keduanya masuk kedalam masjid dalam keadaan  imam ruku’ maka keduanya pun segera ruku’ kemudian mereka mendekati dalam keadaan ruku’ sampai keduanya bergabung kedalam shaf shalat jama’ah. ini Abu bakar Ashshiddiq beliau orang yang sangat dekat dengan Nabi sallallahu’alaihi wasallam, Zait bin tsabit beliau termasuk penulis wahyu ilahi juga melakukannya bersama Abu Bakar Ashshiddiq

Di kuatkan pula oleh riwayat yang lain yang diriwayatkan dari Abu Bakr bin Abi syaibah dan Aththabrani dalam majmu’atul kabir dari zaid in Wahb, kata zaid bin Wahb”

“Aku keluar bersama Abdulloh Ibn Mas’ud dari rumahnya menuju ke masjid pada saat kami berada di tengah masjid maka imam pun ruku’ maka Abdulloh bin Mas’ud segera bertakbir kemudian ruku'”

Kata Zaid bin wahb ” Maka akupun ruku’ bersama Abdulloh bin Mas’ud kemudian kamipun berjalan dalam keadaan ruku’ sampai kami mencapai shaf, begitu kami bergabung dalam sholatul jama’ah kaum muslimin sudah mengangkat kepala mereka”

Begitu telah selesai shalatnya beliau berkata ” saya ingin menambah”  (karena Zaid bin Wahb menganggap apa yang beliau dapati bersama imam ruku’ tidaklah teranggap satu rakaat) dan dia akan berdiri lagi untuk menambah rakaat namun di tarik oleh Ibn mas’ud dan di dudukkan, lalu kata Ibn Mas’ud kepada Zaid bin wahb “tidak perlu kamu berdiri lagi untuk menambah satu raka’at”   dan sanad hadits ini di shahihkan oleh syaikh Albani rahimahullohuta’ala.

Alasan yang ketiga, di kuatkannya alasan ini dengan hadits-hadits yang datang dari jalur riwayat yang lain yang datang dari Nabi  sallallohu’alaihi wasallam mengingkari perbuatan Abu Bakrah di sebabkan karena beliau tergesa-gesa bukan karena beliau ruku’ kemudian berjalan sampai ke shaf, ini di kuatkan oleh riwayat Imam Ahmad rhahimahullohuta’ala dari hadits Abu Bakrah:

عَبْدَ الْعَزِيزِ بْنَ أَبِي بَكْرَةَ يُحَدِّثُ أَنَّ أَبَا بَكْرَةَجَاءَ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَاكِعٌ فَسَمِعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَوْتَ نَعْلِ أَبِي بَكْرَةَ وَهُوَ يَحْضُرُ يُرِيدُ أَنْ يُدْرِكَ الرَّكْعَةَ فَلَمَّا انْصَرَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ السَّاعِي قَالَ أَبُو بَكْرَةَ أَنَا قَالَ زَادَكَ اللَّهُ حِرْصًا وَلَا تَعُدْ

Abdul Aziz bin Abu Bakrahmenceritakan bahwa Abu Bakrah datang hendak shalat, sementara Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dalam keadaan ruku’, Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam mendengar suara sandal Abu Bakrah, ketika ia hendak mendapatkan raka’at shalat, seusai mengerjakan shalat, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang tadi berlarian?.” Abu Bakrah menjawab; “Saya, ” Beliau bersabda: “Semoga Allah menambah semangatmu, janganlah kamu ulangi lagi.”

Dalam riwayat yang lain kata Abu Bakrah dalam keadaan nafasku terengan-engah, oleh karena itu riwayat ini menguatkan pendapat yang ketiga.

Kemudian, termasuk kedalam permasalahan yang di jelaskan oleh para ulama dalam menjelaskan hadits Abu Bakarah radhiallohu’anhu ini adalah permasalahan ketika kita mendapati imam dalam keadaan ruku’ (Masbuk), sehingga dia tidak mendapati imam dalam keadaan berdiri yang berarti tidak membaca surah Al-fatihah, apakah orang yang seperti ini keadaannya ketika mendapati imam ruku’ dan ruku’ bersama imam dia berarti mendapati raka’at atau tidak? ini juga menjadi perselisihan yang sangat sengit di kalangan para ulama, namun perlu di ketahui bahwa dalam hal ini seseorang perlu membahas secara ilmiah dalam artian terkadang terjadi permasalahan selisih pendapat yang masing-masing memiliki dalil yang saling tarik menarik, maka perselisihan yang semacam ini hendaknya tidak di jadikan sebagai bahan untuk berpecah belah, sebab perselisihan itu bermacam-macam, ada perselisihan yang sifatnya tidak di perbolehkan seseorang mentolerir perselisihan itu, Kebenaran harus di sampaikan seperti misalnya perselisihan antara Ahlussunnah dan Syi’ah, Ahlussunnah mengatakan semua para shahabat adil dan Syi’ah mengatakan para shahabat mayoritas murtad setelah meninggalnya Rasululloh sallallohu’alaihi wasallam, apakah yang seperti ini di tolerir? tidak mungkin.

Ahlussunnah yang mengatakan bahwa Al-quran itu terpelihara dan Alloh yang menjaganya, sementara kaum Syi’ah mengatakan bahwa Al-quran yang berada di tangan kaum muslimin telah berubah, nanti akan muncul mushaf fathimah azzahra yang di bawa oleh Al-imam Mahdi menurut mereka, yang seperti ini ma’asyiral muslimin rahimakumulloh tidak di perbolehkan di tolerir.

Namun ada perselisihan yang sifatnya perselisihan dalam hal pemahaman, dimana para ulama telah berselisih yang satunya mengambil istidlal dari satu riwayat, yang satunya lagi mengambil dalil dari riwayat yang lain dan terkadang dari satu dalil terkandung  perselisihan, yang satu melihat dari sisi yang lain, yang satu melihat dari sisi yang lain pula oleh karena itu kadang-kadang terjadi perselisihan, bangun dari ruku’ mana yang shahih bersedekap kembali atau di lepaskan tanpa sedekap, terjadi perselisihan masing-masing memahami dalil yang itu merupakan permasalahan classic dari para ulama dahulu.

Terjadi khilaf di kalangan para ulama apakah menggerakkan jari atau tidak  digerakkan ketika tasyahud, dalam hal-hal semacam ini ma’asyiral muslimin rahimakumullah, kalau kita telah berpegang pada satu pendapat dari dua pendapat yang telah di perselisihkan tidak perlu kita ngotot untuk bersikeras atau mengingkari dengan keras terhadap yang menyelisihi kita, kita harus berlapang dada dalam hal-hal yang semacam ini, namun pembahasan ilmiah tetap dalam artian ketika kita di berikan kemampuan melihat dalil untuk membahas sesuatu lalu kita mampu memahami dalil setelah itu kita mampu memahami masing-masing pendapat para ulama tersebut  bahwa diantara para ulama tersebut ada yang lebih menenangkan hati kita, kelihatannya saya lebih condong dengan pendapat ini dengan alasan ini dan ini. nah itulah yang wajib dilakukan oleh seorang tholibul ‘ilmi.

Kita kembali pada permasalan bahwa para ulama telah khilaf dalam hal seorang yang mendapati imam dalam keadaan ruku’ ada dua pendapat yang masyhur:

Pendapat pertama yang mengatakan seseorang yang mendapati imam dalam keadaan ruku’ maka dia di anggap telah mendapati satu raka’at. Ini pendapat mayoritas para ulama bahkan 4 imam madzhab berpendapat dengan pendapat ini dan juga di riwayatkan dari Al-Auzai dan yang lainnya, diriwayatkan pula dari beberapa shahabat diantaranya yang telah kita sebutkan tadi Ibn Mas’ud juga diriwayatkan dari Abdulloh bin Umar, ada juga yang meriwayatkan dari Ali bin Abi thalib dari Zaid bin tsabit dan yang lainnya dari para ulama, apa dalil mereka:

  1. Hadits Abu Bakrah ini yang menjadi dalil jumhur para ulama, hadits ini menjelaskan bahwa Abu Bakrah datang masuk kedalam jama’ah dalam keadaan mendapati Rasululloh sallallohu’alaihiwasallam ruku’, dan sama sekali tidak di singgung oleh Nabi dan tidak di perintahkan untuk menambah rakaatnya, Rasulullah hanya mengatakan زَادَكَ اَللَّهُ حِرْصًا وَلَا تَعُدْ tapi beliau tidak memerintahkan untuk mengulangi shalat atau menambah shalatnya, sehingga kata jumhur ini dalil yang jelas, kalaulah rakaat yang di kerjakan oleh Abu Bakrah tersebut kurang tentu Rasululloh akan memerintahkan kepada Abu Bakrah untuk mengulangi yaitu menambah  rakaat.
  2. Alasan yang ke dua adalah hadits yang di riwayatkan oleh Abu Dawud, hadits Abu Hurairah bahwa Nabi sallallohu’alaihiwasallam mengatakan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا جِئْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ وَنَحْنُ سُجُودٌ فَاسْجُدُوا وَلَا تَعُدُّوهَا شَيْئًا وَمَنْ أَدْرَكَ الرَّكْعَةَ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلَاةَ

Dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika kalian datang untuk menunaikan shalat, sedangkan kami dalam keadaan sujud, maka ikutlah bersujud, dan janganlah kalian menghitungnya satu raka’at, dan barangsiapa mendapatkan ruku’, berarti dia telah mendapatkan shalat (satu raka’at -pent).”

3. Dalil yang datang dari Ibn Khuzaimah juga dari Abu Hurairah bahwa Nabi sallallohu’alaihi wasallam mengatakan

مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصَّلاَةِ فَقَدْ أَدْرَكَهَا قَبْلَ أَنْ يُقِيْمَ الْإِمَامُ صُلْبَهُ

“Barang siapa yang mendapati imam dalam keadaan ruku’ sebelum imam itu mengangkat punggungnya maka sungguh dia telah mendapati shalat”

Ini dalil-dalil jumhur ulama pendapat pertama yang mengatakan bahwa mendapati imam dalam keadaan ruku’ terhitung satu rakaat.

Pendapat yang kedua adalah pendapat yang mengatakan tidak teranggap satu rakaat, sehingga apabila dia mendapatkan imam dalam keadaan ruku’ maka apa yang dia dapati bersama imam itu tidak teranggap satu rakaat, sehingga dia harus menambah rakaat, dan ini adalah pendapat sebagian para ulama diantaranya adalah Al-imam Al-bukhari rahimahullohuta’ala, Ibn Khuzaimah, Abu Muhammad Ibn Hazm dan di kuatkan oleh sebagian ahli tahkiq seperti Asysyaukani rahimahullohu ta’ala dalam kitabnya Nailul authar dan Syaikhuna Muqbil alwadi’i rahimahulloh beliau juga menguatkan pendapat ini dan pendapat ini diriwayatkan dari Abu Huroirah radhiallohuta’ala ‘anhu, dengan tegas beliau mengatakan:

“jangan engkau menganggap rakaat kecuali engkau mendapati imam dalam keadaan berdiri”

Sebenarnya ma’asyiralmuslimin rahimakumulloh. kalaulah di nuklkan dari kalangan shahabat, lalu tidak ada yang menyelisihi dari kalangan para shahabat, maka pendapat Jumhur adalah pendapat yang sangat kuat, telah di riwayatkan dari Ibn Mas’ud dengan sanad yang shahih sebagaimana yang telah kita sebutkan, diriwayatkan dari Ibn Umar dengan sanad yang shahih maka pendapat para jumhur adalah pendapat yang sangatn kuat apa lagi ada sebahagian para shahabat yang melakukan satu amalan dan tidak seorang pun dari para sahabat yang lain yang menyelisihinya  maka perbuatan shahabat itu adalah hujjah.

Namun kita mengatakan permasalahan ini bukan permasalahan yang tidak ada perselisishan, bahkan para shahabat pun berselisih dalam permasalahan ini, Abu Hurairah menyelisihi pendapat mereka yaitu pendapat Abu Mas’ud dan beliau dengan tegas mengatakan “Jangan kamu menganggap satu rakaat kecuali engkau mendapati Imam dalam keadaan berdiri”, Sehingga ini membutuhkan tarjih melihat mana yang kuat.

Adapun pendapat yang mengatakan tidak teranggap satu rakaat dengan beberapa dalil, diantara dalil yang merupakan dalil yang paling kuat menguatkan pendapat kedua yaitu hadits yang menjelaskan tentang suuratul fatihah sebagai rukun dalam shalat, dengan tegas Nabi sallallahu’alaihi wasallam mengatakan sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim yang diriwayatkan dari Ubadah Ibn Shomit:

لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

“tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Al-fatihah”

dan penyebutan لَا صَلَاةَ (tidak ada shalat) adalah menafikan jenis shalat tersebut, sehingga secara dhahir menunjukkan tidak sah shalat seseorang kecuali dengan Al-fatihah, sedangkan seorang yang mendapati ruku’ apakah dia membaca Al-fatihah? jawabannya tidak, dia tidak membaca Al-fatihah, berarti dia tidak mengamalkan hadits ubadah Ibn Shomit yang dengan jelas mengatakan لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ (tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Al-fatihah), ada riwayat yang lain namun ini adalah dalil yang terkuat dari pendapat yang kedua.

Lalu bagaimana dengan hadits Abu Bakrah?

Maka pendapat yang kedua ini menjawab, bahwa di dalam hadits Abu Bakrah ini sebenarya tidak ada riwayat yang jelas yang menunjukkan bahwa dia menambah rakaat atau tidak, tidak di sebutkan, yang di sebutkan bahwa Abu Bakrah radhiallohuta’ala ‘anhu datang, ketika beliau datang dan mendapati Nabi sallallohu’alaihi wasallam ruku’, maka beliau pun ruku’ kemudian selesai shalat Nabi mengatakan “siapa tadi yang berlari? Abu Bakrah mengatakan “Ana” maka Nabipun mengatakan زَادَكَ اَللَّهُ حِرْصًا وَلَا تَعُدْ , sama sekali tidak di sebutkan ketika Abu Bakrah datang pada rakaat ke berapa Nabi mengerjakan shalat, di rakaat ke berapa? kan tidak di ketahui, mungkin di rakaat kedua, mungkin di rakaat ketiga kalau itu shalat 3 rakaat, atau mungkin di rakaat yang ke 4 kalau itu shalat 4 rakaat, tidak di sebutkan.

Dan juga tidak di sebutkan pada akhirnya apakah Abu Bakrah menambah atau tidak, mungkin saja Rasululloh sallallahu’alaihi wasallam bertanya ketika Abu Bakrah menambah rakaatnya, sehingga hadits ini masih ada kemungkinan-kemungkinan, sebagian para ulama mengatakan:

“kalau masih ada kemungkinan-kemungkinan tersebut maka batal menjadikan itu sebagai dalil”

Jadi Hadits Abu Bakrah tidak jelas menunjukkan bahwa mendapati imam dalam keadaan ruku’ teranggap mendapati rakaat.

Lalu bagaimana tentang hadits Abu Hurairah yang diriwayakan oleh Abu Dawud yang mengatakan bahwa Rasululloh sallallahu’alaihi wasallam mengatakan:

إِذَا جِئْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ وَنَحْنُ سُجُودٌ فَاسْجُدُوا وَلَا تَعُدُّوهَا شَيْئًا وَمَنْ أَدْرَكَ الرَّكْعَةَ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلَاةَ

” Apa bila kalian datang dalam keadaan kami sujud, jangan kalian menganggap sedikitpun, namun barang siapa yang mendapatkan Arrok’ah maka sungguh dia telah mendapati shalat”

Maka pendapat yang kedua mengatakan hadits ini lemah, karena di dalam hadits ini terdapat seorang perowi yang bernama Yahya bin Abi Sulaiman almadani, dan dia adalah seorang perowi yang lemah sebagaimana yang di sebutkan oleh Imam Bukhori rahimahullohuta’ala. Itupun kalau hadits ini shahih, anggaplah hadits ini shahih Nabi tidak mengatakan barang siapa yang mendapati ruku, namun beliau mengatakan barang siapa yang mendapati rakaat, sedangkan penyeutan rakaat ada kemungkinan bersamaan dengan Al-fatihah. Penyebutan Rakaat yang dimaksud adalah lengkap satu rakaat termasuk Al-fatihah.

Lalu bagaimana dengan hadits yang di sebutkan oleh Ibn Khuzaimah hadits Abu Hurairah yang mengatakan:

“Barang siapa yang mendapati imam dalam keadaan ruku’ sebelum dia mengangkat punggungnya maka sungguh dia telah mendapati shalat tersebut”

Maka pendapat kedua mengatakan hadits ini juga hadits yang dhoif, dalam sanadnya ada perowi yang bernama Muhammad bin Abi Umaid Al-madani dan dia juga seorang perowi yang dhoif tidak bisa di jadikan sebagai hujjah, sehingga Wallohuta’ala a’lam saya sendiri (Ust. Askary) lebih condong kepada pendapat yang kedua, kalau antum bagaimana?

Namun sekali lagi bagi yang menganggap yang rajih adalah pendapat pertama silahkan, namun hendaknya dia membangun pendapat tersebut diatas pembahasan ilmiah, dia berusaha mempertahankan, kalau suatu saat nanti ada majlis dialog ya siap-siap, dia harus siap untuk menjawab dialog dan mempertahankan hujjahnya.

Kemudian di dalam hadits Abu Bakrah ini juga kita mendapati pelajaran bahwa di dalam islam kita di anjurkan bersemangat dalam menjalankan syariat, semangat menjalankan islam itu baik, namun semangat harus di barengi dengan ilmu, tidak hanya sekedar semangat semangat semangat, tapi dia tidak menuntut ilmu semangat tanpa ilmu ini akan menyebabkan seseorang keluar jalur, oleh karena itu di ingatkan oleh Nabi Sallallahu’alaihi wasallam

زَادَكَ اَللَّهُ حِرْصًا وَلَا تَعُدْ

“semoga Alloh memberikan kamu semangat, (tapi dalam hal kesalahan) Jangan kamu ulangi)”

dalam artian seorang di tuntut berjalan bersama semangatnya maka dia berusaha menggandengkan semangat itu dengan ilmu, oleh karena itu semangat yang di miliki oleh seseorang hendaknya diarahkan sebahagiannya atau mayoritasnya kepada ilmu, semangat belajar ini bagus sehingga dia berusaha mempelajari hukum-hukum Alloh subhanahuwata’ala yang dengan itu dia membangun amalan-amalannya di atas ilmu ini bagus.

Tapi kalau hanya sekedar semangat, diajak berjihat semangat siap mati katanya, toyyib ini ada pengajian salafy pengajian ahlussunnah menjelaskan tentang tauhid, afwan saya masih banyak urusan katanya, malas bukan main, namun dalam urusan emosi-emosi seperti itu/masalah mati maka dia berada pada baris terdepan, sehingga orang yang seperti itu dia akan menganggap sesuatu dari kebatilan itu sebagai amalan shalih, dan dia akan menganggap perbuatan merusak itu sebagai jihad fisabilillah dan itulah yang kita saksikan, mereka anak-anak muda yang semangat subhanalloh, luar biasa semangatnya untuk menjalankan islam namun idak terarahkan زَادَكَ اَللَّهُ حِرْصًا وَلَا تَعُدْ ucapan Nabi sallallahu’alaihi wasallam ini pantas untuk di berikan kepada mereka, perbuatan ngawur dan menyimpang jangan di ulangi.

Sebagian mereka semangat untuk berdakwah, taunya dakwah dakwah keluar masjid masuk masjid pindah dari satu tempat ketempat yang lain luar biasa semangatnya saking semangatnya dia rela meninggalkan keluarganya tanpa di nafkahi.

Benar apa yang di katakan Ibnu Mas’ud

الْقَصْدُ فِي السُّنَّةِ خَيْرٌ مِنْ الِاجْتِهَادِ فِي الْبِدْعَةِ

“Sederhana tapi dalam sunnah itu jauh lebih baik lebih baik dari pada semangat bersungguh-sungguh dalam perkara bid’ah”

Semangat mau jihad tapi yang di perangi kaum muslimin yang korbannya kaum muslimin, tidak ada manfaatnya, kemudhorotan yang akan dia dapatkan.

pernah ada seorang shalat setelah di kumandangkan adzan subuh maka diantara adzan dan iqamah orang ini shalat lebih dari dua rakaat, dia telah mengerjakan 2 rakaat, tambah lagi tambah lagi, rajin dia mengerjakan shalat, sementara yang di syariatkan oleh Nabi sallallahu’alaihi wasallam antara adzan dan iqamah pada waktu ubuh kan 2 rakaat, di datangi oleh Said Ibn musayyad radhiallohuta’ala ‘anhu sayyiduttabi’in dan mengingkari perbuatan tersebut, “jangan kamu melakukan perbuatan tesebut”, apa kata orang ini : “Apaka aku akan di siksa oleh Alloh karena aku mengerjakan shalat?” apa kata Said radhiallahu’anhu: “Alloh tidak akan menyiksa kamu karena mengerjakan shalat tapi Alloh akan menyiksa kamu karena menyelisihi sunnah Nabi sallallohu’alaihi wasallam”

Maka ini hujjah untuk membantah sekian banyak perbuatan bida’ah yang di kerjakan sebagian kaum muslimin dan mereka menganggap itu perbuatan yang baik, Tahlilan misalnya, masak orang mengucapkan Laailaahaillallah masuk neraka/sesat, oh bukan itu masalahnya, tapi tata caranya/metodenya, apa yang kamu lakukan tidak di contohkan oleh Nabi sallallohu’alaihi wasallam, maa Alloh akan menyiksa kamu karena kamu menyelisishi sunnah buakan karena ucapan Laailaahaillallah.

Toyyib saya kira sampai di sini insyaAlloh yang kita jelaskan, semoga Alloh subhanahuwata’ala memberikan manfaat dari apa yang telah kita pelajari. Wa akhiru da’wana anilhamdulillahirabbil’alamiin

 

Alhamdulillah dengan demikian selesailah transkrip dari ta’lim bersama Ust. Askary hafidhahulloh membahas tentang Hadits Abu Bakrah Radhiallohu’anhu, mohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan. Kita mengharap kepada Alloh ridho dan di mudahkan dalam menuntut ilmu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s