Dimana posisi ma’mum sendirian, berdua dan ma’mum wanita


Download kajian kitab Bulughul maram bersam Ust. Askary hafidhahulloh

Download Kajian

Transkrip kajian

Ma’ashiral muslimin rahimakumulloh

Walhamdulillah nahmadulloha tabaraka wata’ala wanasykuruh atas segala nikmat yang Alloh subhanahuwata’ala limpahkan kepada kita sekalian sehingga kita masih di berikan istiqamah dan kita masih di berikan ketetapan iman, semoga Alloh subhanahuwata’ala mengokohkan keimanan kita dan semoga Alloh jalla wa’ala senantiasa memberikan kesabaran pada diri-diri kita dalam menghadapi berbagai fitnah yang melanda pada zaman ini, sebab seorang yang hidup di zaman yang penuh fitnah ini ketika Alloh subhahanuwata’ala memberikan kemudahan baginya untuk istiqamah di atas al-haq berjalan di atas jalan kebenaran di atas metode dan manhaj Rasululloh sallallahu’alaihiwasallam dan para shahabatnya dan dia senantiasa berusaha memelihara dirinya dari berbagai macam fitnah, memelihara dirinya dari berbagai penyimpangan, penyimpangan syahwat, fitnah harta benda/fitnatul maal, fitnah wanita, fitnah dunia demikian juga fitnah subhat dari pemikiran-pemikiran yang rancu dari agama Alloh subhanahuwata’ala.

Ketika seseorang di pelihara darinya itu merupakan satu kebahagiaan dan kemuliaan hidup fiddunya walakhirah, Nabi sallallahu’alaihiwasallam menjelaskan hal tersebut dalam hadits Al-miqdad bin Al-aswad

إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنَ إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنِ إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنُ وَلَمَنْ ابْتُلِيَ فَصَبَرَ فَوَاهًا

Sesungguhnya orang yang paling berbahagia adalah orang yang di hindarkan dari berbagai fitnah (fitnah subhat, fitnatussyahawat, fitnah bid’ah, fitnah memakan sesuatu makanan yang di haramkan Alloh subhanahuwata’ala, fitnah penghasilan dari penghasilan yang haram, dan fitnatusysyahawat. Orang yang paling berbahagian adalah orang yang dihindarkan dari berbagai macam fitnah tersebut, penc) barang siapa yang di beri ujian oleh Alloh dan dia bersabar maka dialah yang mendapatkan kemenangan dan keberuntungan”

Oleh karena itu ma’asyiral muslimin rahimakumulloh kita hendaknya memohon kepada Alloh untuk mengokohkan hati-hati kita.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

Ya Alloh yang membolak-balikkan hati kokohkanlah hatiku di atas agamamu”

Ma’ashiral muslimin rahimakumulloh kita melanjutkan kembali kajian kita dari kitab Bulughul maram min adillatil ahkam dimana pada pertemuan sebelumnya kita telah membahas hadits Abu Hurairah radiallohuta’ala ‘anhu yang di riwayatkan oleh Al-Imam Muslim dimana Rasululloh sallallahu’alaihiwasallam menjelaskan tentang keutamaan shaf kaum lelaki dan keutamaan shaf kaum wanita.

خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا

Sebaik-baik barisan kaum lelaki adalah yang paling pertama, yang terburuk (yakni yang kurang pahalanya di bandingkan yang lainnya) adalah shaf yang terakhir dan shaf yang paling terbaik bagi kaum wanita adalah shaf yang paling terakhir dan yang terburuk adalah shaf yang pertama”

Yakni bagi wanita yang melaksanakan shalat berbarengan dengan jamaah kaum lelaki, adapun bila kaum wanita sendiri yang mengerjakan shalatul jamaah maka di kembalikan pada keumuman yang pertama yaitu shaf yang terdepan lebih baik dari shaf-shaf berikutnya.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, kita lanjutkan kitab Bulughul maram masih dalam pembahasan tentang tatacara shalat berjama’ah.

Berkata Al-hafidz Abul Fadl Ahmad bin Ali bin Hajar Al-Asqalani rahimahulloh beliau menyebutkan hadits:

وَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: ( صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ذَاتَ لَيْلَةٍ, فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ, فَأَخَذَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِرَأْسِي مِنْ وَرَائِي, فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْه

Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku pernah sholat bersama Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pada suatu malam. Aku berdiri di samping kirinya. Lalu beliau memegang kepalaku dari belakang dan memindahkanku ke sebelah kanannya.

Ibnu Abbas, Abdulloh Ibn Abbas/Abul Abbas salah seorang dari shahabat Nabi sallallahu’alaihi wasallam yang faqih mufassir, na’am sehingga disebabkan oleh keluasan ilmu yang beliau miliki beliau di juluki dengan Al-Bahru yang artinya lautan di sebabkan karena luasnya ilmu yang beliau miliki sebagaimana beliau juga di sebut sebagai habrul ummah / ulamanya ummat ini dan beliau juga di gelari dengan turjumanul quran / penafsir alquranul karim, kata Abdulloh bin Mas’ud radhiallohuta’ala’anhu:

نعم ترجمان القرآن ابن عباس رضي الله عنه

“Sebaik-baik penerjemah Al-quran adalah Abdulloh Ibn Abbas radhiallohu’anhu”

Yakni penafsir Al-quranul karim yang menjelaskan kandungan-kandungan yang terdapat dalam Al-quranul karim Abdullah Ibn Abbas radhiallohu’anhuma, dan tidaklah ilmu yang beliau miliki tersebut melainkan berkah dari doa Rasululloh sallallahu’alaihi wasallam kepada beliau:

اللهم فقهه في الدين، وعلمه التأويل

“Ya Alloh ajarkan kepada dia Agama (fahamkan kepada dia Agama) dan ajarkan kepadanya ilmu tafsir (Tafsir Al-quranul karim)”

Dan doa Nabi sallallahu’alihiwasallam ini dikabulkan oleh Alloh subhanahuwata’ala, beliau menjadi rujukan dari orang-orang setelahnya dari kaum muslimin dalam permasalahan tafsir, menafsirkan Al-quranul karim dan dalam sekian permasalahan-permasalahan fiqih.

Ibnu Abbas radhiallohu’anhuma beliau adalah shahabat Nabi sallallahu’alaihiwasallam sekaligus beliau juga termasuk kerabat, anak paman Rasululloh sallallahu’alaihi wasallam.

صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ذَاتَ لَيْلَةٍ

Aku shalat bersama Nabi sallallahu’alaihi wasallam di satu malam”

Ya’ni qiyamullail / shalat lail dimana Abdulloh ibn Abbas radiallohu’anhuma karena semangatnya beliau menuntut ilmu mempelajari fiqih dari Nabi sallallahu’alaihiwasallam maka beliau menyempatkan diri untuk menginap di rumah bibinya Maimunah bintu Harits, istri Rasululloh sallallahu’alaihiwasallam yang kebetulan pada malam itu merupakan malam gilirannya Maimunah sehingga Nabi sallallahu’alaihiwasallam menginap di rumah Maimunah dan ini di manfaatkan oleh Ibn Abbas.

Kedekatan beliau kepada Nabi sallallahu’alaihi wasallam yang juga merupakan kedekatan beliau kepada salah satu ummahatul mu’minin Maimunah bintu Harits sehingga beliau memanfaatkan hal tersebut sebagi wasilah untuk mendapatkan ilmu, apasih yang di kerjakan oleh Nabi sallallahu’alaihi wasallam di malam hari, walhasil Ibnu Abbas radiallohu’anhuma pun menginap di ruma Mainunah, maka beliaupun menceritakan apa yang di lakukan Rasululloh di malam hari, bahwa Nabi sallallahu’alaihi wasallam setelah pulang dari shalatul isya maka beliau berbincang sejenak bersama dengan keluarganya kemudian beliaupun beristirahat nah bangun di malam hari maka Nabi sallallahu’alaihi wasallam melakukan kebiasaan beliau setiap bangun malam mengawalai dengan bersiwak dan setelah itu bersuci dan bersiap untuk melakukan qiyamullail, maka inipun di perhatikan oleh Ibn Abbas radhiallohu’anhuma, ketika Nabi sallallahu’alihi wasallam hendak memulai qiyamullail beliau hendak shalat sendirian maka bangunlah Ibnu Abbas radhiallohu’anhu meniru apa yang di perbuat oleh Nabi sallallahu’alaihiwasallam lalu kemudian beliaupun ingin menjadi ma’mumnya Rasululloh sallallahu’alaihiwasalallam, maka diapun setelah melakukan aktifitas seperti yang di lakukan oleh Nabi kemudian mendatangi Nabi sallallahu’alaihi wasllamyang sedang mengerjakan shalat.

Maka ini menunjukkan bahwa pada awalnya Rasululloh sallallahu’alaihiwasallam shalat sendirian, Ibnu Abbas datang belakangan setelah beliau melakukan aktifitasnya kemudian mendatangi Nabi sallallahu’alaihi wasallam kemudaian shalat bersama Rasululloh shalatullail, nah inilah yang di katakan oleh Ibnu Abbas, disini Ibnu Hajar rahimahullohuta’ala menyebutkan dengan ringkas, kata Ibnu Abbas:

صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ذَاتَ لَيْلَةٍ

Aku shalat bersama Nabi sallallahu’alaihi wasallam di satu malam”

فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ

Maka akupun berdiri di sebelah kiri Nabi sallallahu’alaihiwasallam”

Berdiri di sebelah kiri, maka Nabi sallallahu’alaihiwasallam berdiri dan Ibnu Abbas berdiri di sebelah kirinya karena beliau hendak menjadi ma’mum

فَأَخَذَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِرَأْسِي

Maka Rasululloh sallallahu’alaihiwasallam pun memegang kepalaku”

مِنْ وَرَائِي

dari belakangku”

Jadi Nabi sallallahu’alaihiwasallam tangan beliau bergerak tapi dari belakang lalu kemudian memegang kepalanya Ibnu Abbas radhiallohuta’ala ‘anhuma dari belakang, sebab kalau dari depan gak mungkin karena akan lewat di depannya Rasululloh sallallohu’alaihi wasallam sementara Nabi sallallohu’alaihi wasallam melarang seseorang untuk lewat di hadapan orang yang shalat, oleh karena itu Rasululloh sallallohu’alaihiwasallam mengambilnya/memegangnya dari belakang.

فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ

Kemudian Nabi sallallohu’alaihi wasallam memindahkan aku ke kanan beliau ‘alaihishsholatuwassalam”

مُتَّفَقٌ عَلَيْه

Muttafakun ‘alaih (Hadits ini di riwayatkan oleh Bukhori dan Muslim, penc)”

Maka di dalam hadits Nabi sallallohu’alihiwa’ala alihi wasallam ini menjelaskan kepada kita tentang tata cara melaksanakan shalat berjama’ah apa bila yang melakukan jama’ah tersebut terdiri dari 2 orang adapun kalau lebih dari 2 orang maka tentu tidak menjadi masalah ma’mum berada di belakang atau lebih dari 3 orang, namun yang menjadi permasalahan apabila mereka hendak mengerjakan sholatul jama’ah 2 orang yang satunya menjadi imam dan yang satunya menjadi ma’mum maka di dalam hadits ini Rasululloh sallallohu’alaihi wasallam mengajarkan kepada kita bagai mana tata cara shalat berjamaah baik dalam shalat wajib maupun shalat sunnah ketika ma’mum hanya seorang diri, dimanakah berdirinya dan bagaimana caranya?

Dan kejadian ini tidak hanya di alami oleh Ibnu Abbas radhiallohu’anhu pernah juga di alami oleh shahabat yang lainnya diantaranya Jabir radhiallohu’anhu, di riwayatkan oleh Al-Imam Muslim rahimahulloh

Aku berdiri di sebelah kirinya Nabi sallalahu’alaihiwasallam ketika Rasululloh sallallahu’alaihiwasallam mengerjakan shalat lalu kemudian beliau menjadikan aku berdiri di sebelah kanan belaiu ‘alaihishsholatuwassalam”

Jadi di sebelah kanan imam, kemudian setelah itu datang lagi yang lain Jabbar bin shokhr datang dan juga shalat di samping Rasul sallallahu’alaihiwasallam, jadi Jabir radhiallohu’anhu shalat di samping kanan Nabi sallallohu’alaihiwasallam datang lagi Jabbar bin shokhr berdiri di sebelah kiri Nabi maka Rasululloh sallallahu’alaihiwasallam memegang tangan keduanya dan mendorongnya ke belakang, karena mereka sudah berdua.

Nah maka hadits yang di riwayatkan dari Jabir radhiallohu’anhu tersebut kandungnya sama dengan yang di riwayatkan oleh Ibnu Abbas, hanya dalam riwayat Imam muslim itu ada tambahan dengan datangnya Jabbar bin shokhr radhiallohuta’ala ‘anhu lalu kemudian Rasululloh sallallohu’alaihiwasallam mendorong mereka sehingga mereka berdiri tepat berada di belakang Nabi sallallohu’alaihiwasallam

Maka di dalam hadits ini kita mendapatkan beberapa faidah yang penting, terkhusus hubungannya dengan permasalahan shalat, dan ada juga beberapa faidah lainnya, diantara Faidah dari hadits ini:

Menjelaskan kepada kita mauqifnya/berdirinya seorang ma’mum seorang diri dan ma’mum tersebut laki-laki bukan wanita, maka di dalam hadits ini Nabi sallallohu’alaihiwasallam menjadikan Ibnu Abbas berdiri di sebelah kanan beliau, dan di tegaskan lagi di sebelah kanan ini dalam riwayat Imam Ahmad rahimahullah

فَجَعَلَنِي حِذَاءَهُ

Maka Nabi sallallohu’alaihiwasallam menjadikan aku sejajar dengannya”

Yang namanya حِذَاءَهُ itu sejajar tidak maju dan tidak mundur, sejajar bersama Rasululloh sallallohu;alaihiwasallam, maka hadits ini merupakan dalil bahwa apabila ma’mum seorang diri tempatnya adalah di sebelah imam sejajar dengan imam tidak mundur, menyelisihi pendapat Imam syafi’i rahimahulloh sebab beliau mengatakan bahwa apabila seorang ma’mum sendirian dia berdiri di sebelah kanan imam namun agak mundur dan itu yang banyak di praktekkan oleh mereka yang bermadzhab Syafi’i, mereka mundur padahal seharusnya yang di ajarkan oleh Nabi sallallohu’alaihiwasallam itu sejajar, bahkan di sebutkan dalam riwayat Imam Ahmad tersebut bahwa Nabi sallallohu’alaihiwasallam menjadikan Ibnu Abbas tepat فَجَعَلَنِي حِذَاءَهُ , maka ketika Rasululloh sallallohu’alaihiwasallam melanjutkan shalatnya, jadi Rasululloh sudah menempatkan Ibnu Abbas sejajar dengan beliau, maka Ibnu Abbas mundur sampai kemudian selesai shalat, maka setelah selesai shalat Nabi sallallohu’alaihiwasallam mengatakan kepada Ibnu Abbas:

مَا شَأْنِي أَجْعَلُكَ حِذَائِي فَتَخْنِسُ

Ada apa denganku, aku menjadikan kamu sejajar mengapa engkau mundur”

Di ingkari oleh Nabi sallallohu’alaihiwasallam apa yang di lakukan oleh Ibnu Abbas radhiallohu’anhuma, apa kata Ibnu Abbas:

أَوَيَنْبَغِي لِأَحَدٍ أَنْ يُصَلِّيَ حِذَاءَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ

Apakah sepantasnya seseorang itu shalat sejajar dengan Rasululloh sallallohu’alaihiwasallam, engkau adalah Rasululloh”

Mendengarkan jawaban Ibnu Abbas tersebut maka Nabi sallallohu’alaihiwasallam mendoakan Ibnu Abbas, beliau kagum kepada Ibnu Abbas dan beliau mendoakan Ibnu Abbas agar di berikan tambahan ilmu oleh Alloh subhanahuwata’ala.

Singkatan Hadits tersebut adalah pengingkaran Rasululloh sallallohu’alaihiwasallam ketika Ibnu Abbas mundur maka ini merupakan hujjah yang sangat kuat yang menyebutkan ketika ma’mum cuma satu orang berdiri di sebelah kanan imam dan sejajar dengan imam dan tidak mundur dalam riwayat yang lain di sebutkan:

فَقُمْتُ إِلَى جَنْبِهِ

Aku berdiri tepat di samping Rasululloh sallallohu’alaihiwasallam”

Kalau mundur kan tidak di sebut جَنْبِهِ (tepat di samping), oleh karena itu di sebutkan dalam riwayat Ibnu Juraij rahimahullohuta’ala bahwa ada yang bertanya kepada Atha’ mereka mengatakan tentang seseorang yang sholat bersama satu orang

Dimana tempat berdirinya?”

Kata Atha’ rahimahullohuta’ala: “Di sampingnya”

Lalu aku bertanya: “Apakah sejajar dengannya sampai betul-betul sejajar satu shaf dengannya sehingga tidak ada yang mundur dan tidak ada yang maju?”

Kata Atha’ radhiallohu’anhu: “Ya” (memang seperti itu, penc)

Lalu di tanya lagi: “Apakah dia tidak menjauh sehingga tidak ada jarak antara keduanya?”

Atha’ menjawab: ”Ya”

Ini juga yang banyak di selisihi kaum muslimin khususnya mereka yang bermadzhab Syafi’i, sering kita mendapati kalau mereka shalat 2 orang maka makmumnya ini selalu mundur, yang repotnya kadang-kadang kalau dia ngotot dengan perbuatannya itu, gimana kalau ada seseorang entah karena dia itu bermadzhab Syafi’i atau karena seperti itulah yang di ajarkan tanpa dia mengetahui itu madzhab Syafi’i atau bukan kemudian kita datang masbuk misalnya, atau kita ingin shalat berjamaah kita hanya mendapati satu orang lalu kemudian kita menjadi imam dia menjadi makmum kita ingin membuat dia sejajar dia mundur terus gimana?

Ya kalau kita bisa nasihati kemudian kita jelaskan bahwa yang sunnah adalah sejajar walhamdulillah, cuman kadang-kadang sebagian ngotot, ngotot nggak punya dalil lagi ya sudahlah jika dia tetap seperti itu ya dia yang bertanggung jawab dengan perbuatannya, nah ini ma’asyiral ikhwah rahimakumulloh.

Dan di dalam hadits ini juga menjelaskan bahwa makmum ketika sendirian buakan di sebelah kiri imam tapi di sebelah kana imam oleh karena itu Nabi sallallohu’alaihiwasallam beliau melakukan dengan perbuatannya memindahkan Ibnu Abbas dan memindahkan Jabir radhiallohu’anhuma dari sebelah kiri ke sebelah kanan beliau, lalu terjadi perselisihan di kalangan para ulama “Apa hukumnya makmum berdiri di sebelah kiri imam?”

setelah kita mengetahui dari hadits tadi bahwa yang sunnah adalah makmum di sebelah kanan, apakah shalatnya batal atau tidak, nah ini yang menjadi perselisihan di kalangan para ulama.

Ada sebahagian pendapat dan itu yang masyhur dari pendapat al-imam Ahmad dan di ikuti oleh murid-muridnya para madzhab imam Ahmad mereka berpendapat bahwa tidak sah shalat seorang makmum apaila dia berdiri di sebelah kiri imam dan ini juga yang di kuatkan oleh Syaikh Sholeh fauzan hafidhohullohuta’ala, alasannya sebab Nabi sallallohu’alaihiwasallam mengingkari perbuatan Ibnu Abbas, menunjukkan wajibnya, namun pendapat ini di selisihi jumhur ulama dari madzhab Malikiyah, Syafi’iyah, hanabilah mereka mengatakan bahwa shalat makmum yang berdiri di sebelah kiri imam sahalatnya sah namun menyelisihi sunnah, dan pendapat ini pula yang di kuatkan oleh Syaihkul Islam Ibnu Taimiah, Syaikh Al-utsaimin, Al-‘allamutu Sa’di rahimakumulloh dan pendapat ini yang dhohir yang lebih mendekati kebenaran sebab menghukumi batalnya shalat seseorang butuh dalil khusus, dan hadits ini tidak cukup untuk mengatakan batalnya sebab ini merupakan kejadian perbuatan dari perbuatan Nabi sallallohu’alaihiwasallam dan asal hukum perbuatan Nabi sallallohu’alaihiwasallam asal hukumnya adalah sunnah, disini beliau tidak menyertakan perbuatannya dengan ucapan.

Kalaupun kita menghukumi ini wajib, maka wajib karena di lakukan oleh Nabi memmindahkan Jabir, namun untuk menghukumi batalnya ini memerlukan dalil khusus yang meneyebutkan batalnya. Ini yang dhohir wallohuta’ala a’lam

Dan di dalam hadits ini kita juga mendapatkan faidah di perbolehkannya seseorang merubah niatnya di pertengahan shalat, sebab Nabi sallallohu’alaihiwasallam beliau awalnya shalat sendirian, kemudian Ibnu Abbas datang di pertengahan shalat, tentu terjadi perubahan niat dari shalat sendirian kemudian menjadi Imam.

Dan di dalam hadits ini juga kita mendapatkan faidah di perbolehkannya mengerjakan shalat-shalat sunnah dengan berjama’ah, namun kita perlu mengetahui bahwa shalat sunnah/nafilah yang di kerjakan secara berjama’ah terbagi menjadi dua bahagian

Yang pertama shalat sunnah atau shalat Nafilah yang memang di sebutkan oleh Nabi sallallohu’alaihiwasallam tentang keutamaannya dan beliau mensyariatkannya, nah apa yang di sebutkan di dalam nash/hadits Nabi sallallohu’alaihiwasallam bahwa Rasululloh menganjurkan shalat tersebut secara berjamaah padahal itu shalat sunnah maka di syariatkan di kerjakan secara berjama’ah, seperti shalat istisqa, shalat gerhana bagi yang berpendapat itu sunnah, bahwa ada yang berpendapat itu wajib dan ada pula yang berpendapat itu sunnah, kalau yang berpendapat itu sunnah maka dianjurkan untuk berjama’ah. Shalatuttarawih maka di anjurkan untuk berjamaah.

Namun ada shalat nafilah yang tidak ada nash untuk dilakukan secara berjamaah, apabila tidak ada nash maka di perbolehkan untuk di kerjakan secara berjamaah namun tidak sering, seperti sholat lail, shalat dhuha, shalat witir di luar bulan ramadhan, adapun bila menganjurkan untuk qiyamullail secara berjamaah secara terus menerus maka ini perbuatan bid’ah, ada sebagian kebiasaan kaum muslimin terutama yang tinggal di lingkungan pondok pesantren setiap malam di bangunkan untuk shalat malam secara berjama’ah, anda memangunkan orang untuk shalat berjamaah itu bagus, tapi jangan sampai kita hendak menghidupkan sunnah tapi malah terjerumus dalam mukholafatussunnah/perkara menyelisihi sunnah.

Nabi shallallohu’alaihiwasallam tidak pernah menganjurkan kepada ummatnya setiap malam untuk qiyamullail bahkan beliau tidak membangunkan istrinya, tidak pula Ibnu Abbas.

Di dalam hadits ini juga menjelaskan di perbolehkannya melakukan gerakan-gerakan apabila ada hajah, lihat Nabi sallallohu’alaihiwasallam beliau menggerakkan tangannya untuk menarik Ibnu Abbas, Jabir ketika Jabbar bin shakhr datang beliau mendorong mereka kebelakang agar kemudian mereka shalat di belakang Nabi, adapun yang tercela adalah perbuatan sia-sia begini begini seperti orang yang sedang senam, yang kita khawatirkan adalah gerakannya membatalkan shalat adapun gerakan yang ringan dan ada hajah maka ini di perbolehkan.

Dan dalam hadits ini menjelaskan di perbolehkannya berjalan di dalam shalat apabila ada hajah menyelisihi pendapat mereka yang terlalu kaku dalam mengamalkan fiqih, ada sebagian mereka yang berpendapat hanya 3 kali gerakan yang di perbolehkan, jadi kalau gatel yang boleh hanya menggaruk sekali, balik lagi sudah 2 kali, sekali lagi 3 kali jangan lebih kalau lebih batal.

Ini berapa kali gerakan yang dilakukan Ibnu Abbas berjalan sampai beliau berdiri di sebelah kanan Imam, apalagi dia anak kecil butuh berapa langkah untuk berjalan.

Nabi sallallohu’alaihiwasallam beliau pernah shalat di atas mimbar memimpin shalat para shahabat, beliau ketika berdiri diatas mimbar, rukuk, i’tidal di atas mimbar, ketika beliau hendak sujud beliau turun ke belakang lalu beliau sujud, bangkit kerakaat kedua beliau naik lagi, ketika hendak sujud turun lagi itu sudah berapa gerakan?

Termasuk ketika seseorang sholat dan menjadikan orang lain sutroh dan orang tersebut pergi, apa yang dia lakukan? Sementara dia wajib untuk mengguanaka pembatas dalam shalat dan Nabi sallallohu’alaihiwasallam memerintahkan itu

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيُصَلِّ إِلَى سُتْرَةٍ وَلْيَدْنُ مِنْهَا

Jika salah seorang dari kalian shalat, hendaklah menghadap ke sutrah dan mendekatinya”

Sehingga apabila dia memungkinkan untuk mendekati sutrahnya seperti tiang atau jalan ke depan untuk mendekati dinding maka yang seperti ini di perbolehkan jika ada hajah.

Adapun jika berjalan dari belakang situ misalnya ke dinding depan karena di kana kirinya tiadak ada tiang maka yang seperti ini bukan shalat yang seperti ini, lalu bagaimana kalau keadaannya seperti ini ya sudah

لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا

Allah tidaklah membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya.”

Kemudian di dalam hadits ini juga menjelaskan kepada kita bahwa bukanlah hal yang tercela memegang kepala orang lain, di sini Rasululloh sallallohu’alaihiwasallam memegang kepalanya Ibnu Abbas, na’am ini menyelisihi kebiasaan masyarakat bahwa jika di pegang kepalanya ini merendahkan, di tinjau secara hukum syar’i maka yang seperti ini tidak mengapa, apalagi di kalangan bangsa Arab mereka seneng bila di pegang kepalanya, jenggotnya mereka seneng.

Tapi ya memang kebiasaan orang indonesia ini agak berubah sedikit dari fitrah kalau di pegang bahagian belakangnya tidak mengapa tapi kalau di arab di pegang bahagian belakangnya dan di ketahui dia orang yang mengerti itu bisa mati, ma’asyiral muslimin rahimakumulloh menimbulkan perselisihan seperti jika orang indonesia ke yaman berkumpul dengan orang arab sering terjadi kesalah pahaman

Dan di dalam hadits ini juga menjelaskan fiqih Ibnu Abbas dimana beliau sangat bersemangat untuk menimba ilmu untuk mengetahui langsung dari Nabi sallallohu’alaihiwasallam dalam urusan Dien, mengetahui langsung apa yang di lakukan Nabi sallallohu’alaihiwasalallam di dalam rumah dan ini merupakan keutamaan Ibnu Abbas, banyak para shahabat mereka mengetahuai keadaan Nabi sallallohu’alaihiwasallam tapi hanya di luar rumah.

Dahulu sebelum turunnya ayat hijab, Anas bin Malik sering keluar masuk rumah Nabi sallallohu’alaihiwasallam, namun setelah turunnya ayat hijab karena Anas bin Mlik bukan mahram maka beliau tidak lagi di perbolehkan memasuki rumah Nabi sallallohu’alaihiwasallam, sehingga yang masuk adalah mereka yang ada hubungan kekerabatan, sehingga kedekatan Ibnu Abbas dengan Maimunah sebagai bibi beliau maka ini di gunakan sebai kesempatan untuk menuntut ilmu, maka dari sini juga kita mendapatkan faidah jika diantara keluarganya ada yang memiliki ilmu manfaatkan, jadikan dia sebagai tempat untuk belajar.

Oleh karena itu Muhammad bin Ja’far beliau mulazamah denga Syu’bah ibn Hajjaj selam 20 tahun sebab Syu’bah Ibn Hajjaj ini menikahi ibunya Muhmmad bin Ja’far sehingga Muhammad bin Ja’far ini statusnya sebagi rabibnya Syu’bah, ini di manfaatkan oleh Muhammad bin Ja’far sehingga beliau di percaya paling kokoh dalam meriwayatkan hadits dari Syu’bah radhiallohu’anhu.

وَعَنْ أَنَسٍ قَالَ: ( صَلَّى رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقُمْتُ وَيَتِيمٌ خَلْفَهُ, وَأُمُّ سُلَيْمٍ خَلْفَنَا ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيّ

Dari Anas beliau berkata: Rasululloh sallallohu’alaihiwasallam shalat maka akupun berdiri bersama dengan Yatim (Dzumairah) di belakang beliau dan Ummu Sulaim di belakng kami” Muttafaqun ‘alaih diriwayatkan oleh Imam Bukhari rahimahulloh

Yatim adalah seorang yang di tinggal mati ayahnya yang usianya belum baligh, dan dalam hadits Anas rahiallohu’anhu ini menjelaskan bahwa jika makmum terdiri dari dua orang maka mereka berdiri di belakang imam, bukan di sampimng sebagai mana yang di katakan oleh Anas bin Malik

فَقُمْتُ وَيَتِيمٌ خَلْفَهُ

Aku berdiri bersama anak yatim di belakang Rasululloh sallallohu’alaihiwasallam”

Dan di dalam hadits ini juga menunjukkan bahwa shaf anak kecil sah, oleh karena itu Nabi sallallohu’alaihiwasallam mendirikan Anas bin Malik di belakang beliau tidak di samping, sementara anak yatim ini belum mencapai baligh, kalaulah shaf anak kecil itu tidak di anggap tentu Anas bin Malik akan di berdirikan di samping beliau bersama anak kecil itu, ternyata berdirinya di belakang Nabi sallallohu’alaihiwasallam, maka ini menunjukkan shaf anak kecilpun sah.

Dan di dalam hadits ini kita mendapatkan faidah bahwa seorang wanitan walaupun dia seorang diri berdirinya di shaf tersendiri di belakang, disini kata Anas bin Malik

وَأُمُّ سُلَيْمٍ خَلْفَنَا

Dan Ummu Sulaim berdiri di belakang kami”

Jadi Rasululloh berdiri di depan sebagai Imam, Anas bin Malik bersama Yatim di belakang beliau dan wanita itu Ummu sulaim berada di belakangnya Anas bin Malik dan anak yatim padahal dia seorang diri yang demikina di perbolehkan dan itulah yang harus dan tidak ada perbedaan di dalam hal ini apakah wanita itu sebagai mahramnya atau bukan, sebab ada juga yang shalat dia shalat bersama dengan istrinya, istrinya berdiri di sebelah kanannya dengan alasan dia seorang diri, ana gak tau bisa khusuk gak ini, na’am ini menjadi masalam ma’asyiral ikhwah rahimakumulloh.

Ada lagi yang shalat bersama pacarnya, na’am dia telah berbuat maksiat dengan perbuatannya itu ngawur lagi ini semua menyelisihi syariat di sebabkan oleh kejahilan/kebodohan, nah meskipun dia mahram, meskipun dia istri kita meskipun dia anak kita kalau ada satu orang laki-laki dia shalat bersama seorang wannita mahramnya shalatnya di belakang, tetep di belakang, wanita shafnya sendiri.

Dan ini juga menjelaskan bahwa islam sangat menjaga kita dari yang namanya ikhtilat pencampuran antara laki-laki dan perempuan, jadi di pisah banyak hadits-hadits yang menjelaskan tentang hal itu, kecuali dalam kondisi darurat seperti ketika menunaikan haji karena sulit menghindari pencampuran, tapi selama memungkinkan itu menjadi suatu hal yang wajib di mana saja di sekolah-sekolah, di universitas wajib bagi kaum muslimin untuk memisahkan antara lelaki dan wanita, oleh karena itu Nabi sallallohu’alaihiwasallam memperingatkan pada wanita

عَلَيْكُنَّ بِحَافَّاتِ الطَّرِيقِ

Tidak ada hak bagi wanita untuk berjalan di tengah jalan”

Yaitu maksudnya dia memberanikan diri untuk bertabrakan dengan seorang laki-laki, tidak sepantasnya.

Nah ini ma’asyiral muslimin rahimakumulloh saya kira ini yang kita jelaskan pada malam ini insyaAllohu ta’ala, semoga Allohu ta’ala memberikan kepada kita tambahan ilmu dan memberikan taufik dan memberikan kemudahan kepada kita untuk beramal shalih.

Waakhiru da’wana Anilhamdulillahirabbil’alamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s