Tuntunan Shalat Musafir Bagian 1


Pentingnya mempelajari hukum dan tata cara dalam beribadah terkhusus bagaimana tatacara seseorang bersuci begitu juga dengan melaksanakan shalat ketika seseorang dalam keadaan musafir di sebabkan karena kita tentunya tidak akan selalu berada dalam keadaan muqim, sehingga masalah-masalah yang kaitannya dengan hukum  dan ibadah sangat penting di ketahui oleh seorang muslim, oleh karena itu penulis buku “Tuntunan Shalat Musafir” (Al Ustadz Abu Karimah Askari) berharap semoga buku ini memberi manfaat bagi kaum muslimin secara umum terkhusus kepada diri beliau dan beliau berdoa semoga menjadi simpanan pahala kelak ketika bertemu Allah subhanahu wa ta’ala.

Ada 3 qaidah penting yang perlu kita ketahui sebelum memulai pembahasan tata cara shalat musafir :

1. Wajib bagi setiap muslim untuk meyakini bahwa islam merupakan agama yang sempurna dan telah menjelaskan segala sesuatu, apa saja yang yang di butuhkan oleh hamba-hambanya dari perkara-perkara yang menyangkut masalah ibadah, perkara-perkara yang menjelaskan tentang halal dan haram, mana yang haq dan yang bathil ini telah di jelaskan dalam islam, tidak satupun amalan, keyakinan yang di butuhkan oleh seorang hamba melainkan telah di jelaskan oleh Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam, Allah berfirman dalam surah Almaiadah ayat 3:

 الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا 

 

“Pada hari ini Aku telah sempurnakan untuk kalian agama kalian dan Aku telah cukupkan untuk kalian nikmat-Ku dan Aku telah ridha islam ini menjadi agama untuk kalian”

Maka dengan turunnya ayat Allah subhanahu wa ta’ala ini menunjukkan bahwa segala sesuatu telah sempurna, sehingga di dalam islam kita tidak lagi membutuhkan adanya alternative yang lain untuk menjelaskan tentang agama kita kecuali kita mencukupkan dengan apa yang di turunkan Allah subhanahu wa ta’ala yaitu Al quranul karim demikian pula apa yang di sampaikan oleh Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam melalui hadits-hadits beliau yang shahih.

Oleh karena itu Rasulullah Salallahu’alaihi wa sallam telah mempersaksikan tentang kesempurnaan islam ini kepada para shahabat dalam kisah hajjatul wada’ pada saat Nabi sallallahu’alaihi wa sallam mempersaksikan di saat wukuf di arafah sebelum turunnya firman Allah subhanahu wa ta’ala yang di sebutkan di atas beliau mempersaksikan di hadapan ratusan ribu para shahabat yang menghadiri peristiwa wukuf di arafah ketika itu. Nabi sallallahu’alaihi wa sallam mengatakan di hadapan mereka “Bukankah aku telah menyampaikan?”, maka para shahabat mempersaksikan bahwa Nabi sallallahu’alaihi wa salllam telah menyampaikan risalah yang datang dari Allah subhanahu wa ta’ala, maka Nabi sallallahu‘alaihi wa sallam mengatakan “Ya Allah saksikanlah Ya Allah saksikanlah Ya Allah saksikanlah”.

Dan di saat itulah Rasulullah sallallahu’alaihi wa salllam menyampaikan 2 pedoman yang telah cukup bagi hamba-hambaNya, sebagaimana yang di riwayatkan oleh Al imam Alhakim dalam kitabnya Al Mustadraq bahwa Nabi sallallahu’alaihi wasalllam bersabda ketika itu:

تركت فيكم أمرين ماان تمسكتم بهما لن تضلوا أبدا كتاب الله وسنة

“Aku telah tinggalkan kepada kalian 2 pedoman, yang apa bila kalian berpegang teguh kepada keduanya, kalian tidak akan tersesat selama-lamanya yaitu Kitabullah (Al quranul Karim) dan Sunnahku (hadits shahih))”

Maka dua pedoman inilah yang di tinggalkan oleh Nabi sallallahu’alaihi wa sallam kepada ummatnya barang siapa yang berpegang kepada keduanya, maka dia tidak akan tersesat selama-lamanya, oleh karena itu Abu Dzar Al ghifari Radhiallahu ‘anh beliau mengatakan sebagaimana yang di riwayatkan oleh Attabrani rahimahullahu ta’ala:

تَرَكَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا طَائِرٌ يُقَلِّبُ جَنَاحَيْهِ فِي الْهَوَاءِ إِلاَّ وَهُوَ يَذْكُرُنَا مِنْهُ عِلْمًا

“Dan sungguh Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam telah meninggalkan kami dan tidaklah seekor burung yang mengepak-ngepakkan sayapnya di udara melainkan Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada kami ilmunya”

Maksudnya segala sesuatu telah sempurna dan telah di jelaskan oleh Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam

2. Islam adalah agama yang mudah, Allah subhanahu wa ta’ala tidak pernah mempersulit hamba-hambanya dalam beribadah, oleh karena itu banyak sekali nash-nash yang di sebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala demikian pula yang di jelaskan oleh Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam yang menunjukkan kemudahan agama ini sehingga setiap hamba bisa mengamalkan sesua dengan kemampuannya, Allah ‘azza wa jalla berfirman:

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

“Dan Allah subhanahu wa ta’ala tidaklah menjadikan kesempitan untuk kalian di dalam mengamalkan agama Allah subhanahu wa ta’ala”

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah subhanahu wa ta’ala menghendaki bagi kalian kemudahan dan Allah tidak menghendaki bagi kalian kesulitan”

Demikian pula Allah subhanahu wata’ala berfirman:

 

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Di saat adanya kesulitan pasti akan datang kemudahan”

Demikian pula Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam beliau bersabda sebagaiman yang di riwayatkan oleh Al Imam Bukhari dari hadits Abu Hurairah radhiallahu’anhu:

 إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ

“Sesungguhnya agama ini (islam) mudah, dan tidak ada seorang pun yang mempersulitnya melainkan (agama itu) mengalahkan dia”.

Agama ini bisa di amalkan siapa saja sesuai dengan kemampuan mereka dan Allah subhanahu wa ta’ala tidak membebani seorang hamba kecuali apa yang mereka mampu untuk mengamalakan, salah satu contoh saja dalam pelaksanaan shalat Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mengatakan sebagaimana yang di sebutkan dalam riwayat Imran ibn Husain radhiallahu ta’ala ‘anhu bahwa Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam mengatakan kepada seorang yang mengerjakan shalat dalam keadaan sakit bawasir (ambeien):

صَلِّقَائِمًا،فَإِنْلَمْتَسْتَطِعْفَقَاعِدًا،فَإِنْلَمْتَسْتَطِعْفَعَلَىجَنْبٍ

“Shalatlah kalian dalam keadaan berdiri apabila tidak mampu maka shalatlah dalam keadaan duduk dan jika kamu tidak mampu maka shalatlah dalam keadaan berbaring”

Contoh yang lain dalam berpuasa, Allah subhanahu wa ta’ala mewajibkan kepada kaum muslimin dan muslimat untuk berpuasa di bulan ramadhan namun Allah subhanahu wa ta’ala yang penuh rahmah memberikan rukhshah bagi hamba-Nya yang kesulitan untuk menjalankannya seperti seorang musafir atau dalam keadaan sakit yang merasa berat untuk berpuasa pada saat itu, Allah ta’ala berfirman:

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Maka, barangsiapa di antara kalian yang sakit atau berada dalam perjalanan (lalu berbuka), (dia wajib berpuasa) sebanyak hari (puasa) yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.”

Oleh karena itu para ulama menyebutkan suatu qaidah “adanya kesulitan akan membawa kemudahan”

3. Allah subhanahu wa ta’ala telah memberikan keistimewaan kepada ummat Nabi Muhammad sallallahu’alaihi wa sallam di mana mereka bisa melakukan ibadah di mana saja baik di masjid atau bukan masjid, seluruh yang ada di permukaan bumi ini dimana saja berada baik di daratan, lautan atau di atas udara kita boleh menjadikan itu sebagai tempat shalat, yang mana kekhususan ini tidak di berikan kepada ummat-ummat sebelumnya.

Ummat sebelumnya mereka tidak beribadah melainkan di tempat khusus yang di sebut Kanisah, Kuil atau yang semisalnya.

Dalam Hadits Jabir radhiallahu ta’ala ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ قَبْلِي ؛ نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ، وَجُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدًا وَطَهُورًا، فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ فَلْيُصَلِّ، وَأُحِلَّتْ لِيَ الْمَغَانِمُ، وَلَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي، وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ، وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً، وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

“Saya diberikan lima keistimewaan yang tidak diberikan kepada nabi sebelumku: 1. Saya dimenangkan dengan ketakutan (kekhawatiran) musuh jarak satu bulan, 2. Saya dihalalkan Rampasan perang, 3. Dijadikan bumi (tanah) ini sebagai Mesjid dan tempat yang suci, maka siapapun dan ditanah manapun ummatku mendapati waktu shalat maka segera melaksanakan Sholat, 4. Saya diberikan hak untuk memberi Syafa’at, 5. Para Nabi dan Rasul diutus untuk umatnya saja sedangkan saya diutus untuk umat (manusia) sekalian alam”.

Kecuali ada tempat-tempat khusus yang di larang oleh Nabbi sallallahu’alaihi wasallam untuk melaksanakan shalat seperti pekuburan demikian pula kamar mandi, di sebutkan dalam hadits Abu Sa’id al Khudri radhiallahu ta’ala ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan yang lainnya bahwa Nabi sallallahu’alihi wa sallam bersabda:

الأَرْضُكُلُّهَامَسْجِدٌإِلاًّلْمَقْبَرَةَوَالْحَمَّامَ
“Tanah semuanya adalah masjid melainkan kuburan dan tempat kamar mandi (WC).”

Maka apa bila kita telah memahami 3 qaidah penting ini, maka dengan mudah pula kita memahami mudahnya syariat Allah subhanahu wa ta’ala yang di ajarkan melalui Rasulnya sallallahu’alaihi wa sallam.

Ketika seorang musafir hendak bersuci maka Allah subhanahu wa ta’ala memberikan kemudahan,.

Bersuci bagi seorang musafir sama halnya dengan bersuci bagi seorang yang muqim (asal hukum bersuci adalah dengan menggunakan air)dalam hal bersuci dari hadats kecil maupun hadats besar, apabila seorang musafir hendak berwudhu maka apabila ada air maka air adalah merupakan inti dalam bersuci, tidak di perbolehkan bagi seorang meninggalkan air untuk bersuci selama air masih ada, demikian pula hadats besar selama ada air maka dia wajib untuk mandi janabah.

Namun ada kondisi dimana seseorang tidak menemukan air atau ada air tapi dia tidak mampu menggunakannya disebakkan sakit atau kondisi yang lainnya, maka dalam keadaan ini Allah memberikan keringanan untuk beralih kepada tayammum.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surah Annisa ayat 43:

وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ

“Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu”

Maka firman Allah subhanahu wa ta’ala ini merupakan asal yang menjelaskan tentang asal hukum bertayammum, dimana Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwa apabila seorang dalam keadaan sakit, ada air tapi dia tidak memungkinkan untuk menggunakannya maka dia boleh bertayammum, misalnya dia dalam keadaan junub kalau dia mandi khawatir dia akan binasa, apa lagi dalam musim dingin apabila dia mandi maka bisa menyebabkan kebinasaan, maka ini merupakan udzur yang menyebabkan dia boleh beralih pada tayammum, atau dia tidak menemukan air maka ia boleh bertayammum, atau dia di hukumi tidak menemukan air misal dia berada di suatu daerah yang dia akan menjalankan shalat sementara dia tidak membawa air, namun di situ ada air yang di jual dengan harga setinggi-tingginya sehingga menyulitkan bagi dia untuk membelinya, mungkin dia memiliki uang namun harganya tidak normal, jika dia membelinya sementara dia masih membutuhkan uang untuk perjalanan yang berikutnya maka kondisi ini oleh para ulama di hukumi air itu tidak ada.

Tayammum bisa menghilangkan hadats kecil dan juga hadats besar (mewakili berwudhu dan mandi), tata caranya sama baik untuk mengangkat hadats kecil maupun besar yaitu sebagaimana di jelaskan oleh Allah subhanahu wa ta’ala:

فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم

“Hendaknya kalian mengusap ke wajah-wajah kalian dan tangan-tangan kalian”

Di jelaskan pula caranya oleh Nabi sallallahu‘alaihi wa sallam dalam riwayat Ammar bin Yasir radhiallahu ‘anhu, bahwa suatu ketika Ammar bin Yasir di utus oleh Nabi sallallahu’alaihi wa sallam dalam satu perjalanan, di tengah perjalanan beliau dalam keadaan junub, ketika beliau dalam keadaan junub dalam keadaan tidak ada air, yang beliu ketahui bahwa seorang yang tidak menemukan air dan ingin berwudhu maka gantinya adalah tayammum mengusap wajah dan tangan, sementara beliau dalam keadaan junub, maka beliaupun berijtihad kata beliau “Maka akupun berguling-guling di pasir seperti bergulingnya hewan yang gatal”. Sekembalinya dari perjalanan tersebut maka beliau menemui Rasulullah sallallahu’alai wa sallam dan beliau menanykan hal ini kepada Rasulullah sallallahu‘alaihi wa sallam, kata Rasulullah: “Sebenarnya cukup wahai Ammar engkau melakukan demikian” lalu Nabi shalallahu’alaihi wa sallam mencontohkan tata cara tayammum, beliau memukulkan kedua tangannya ke atas tanah satu kali saja, ada riwayat yang mengatakan “bertaymmum dua kali” maka ini riwayat yang lemah, yang shahih cukup satu kali saja kemudian di angkat, apa bila terdapat debu yang cukup banyak di tangan maka boleh di tiupkan, yang di usap terlebih dahulu adalah wajah, setelah wajah tangan sampai di pergelangan tangan saja punggung dan dalamnya, selesai. Ada satu riwayat yang menjelaskan sampai ke siku itu riwayat lemah.

Apa bila kita berada di tempat yang kesulitan mendapatkan debu tidak menjadi masalah, karena yang di maksud صَعِيدًا adalah segala sesuatu yang berada di permukaan bumi, apakah itu kayu atau batu meskipun misalnya batu itu bersih tidak mengapa.

Kemudian salah satu yang penting juga adalah ketika kita melakukan perjalanan di pesawat, terkadang kita melakukan perjalanan yang cukup panjang, misal dalam perjalanan umrah yang menempuh waktu yang cukup lama sementara waktu shalat telah tiba, maka salah satu kemudahan dari Allah subhanahu wa ta’ala adalah menjamak shalat (menggabungkan dua shalat dalam satu waktu) seperti shalat dhuhur di gabung dengan shalat ashar, shalat magrib di gabung dengan shalat isya ini yang boleh, tidak boleh menggabung shalat ashar dengan magrib atau menggabung shalat isya dengan shalat subuh atau shalat subuh dengan shalat dhuhur ini tidak di perbolehkan.

Cara penggabungan jamak boleh di lakukan dengan dua cara:

  1. Jamak Taqdim yaitu melaksanakan dua shalat di waktu yang pertama, misal ingin mengerjakan shalat dhuhur dan ashar di waktu dhuhur, shalat magrib dan isya di kerjakan di waktu magrib.
  2. Jamak Takhir yaitu melaksanakan dua shalat di waktu shalat yang ke dua, misalnya kita melaksanakan shalat dhuhur dan ashar di waktu ashar dan shalat magrib dan isya di kerjakan di waktu isya.

 Misal kalau kita menempuh perjalanan yang tidak terlalu lama misal dari Balikpapan ke Jakarta perjalana 1 atau 2 jam kita telah sampai tujuan maka kita wajib hukumnya shalat di darat, jadi asal hukum shalat wajib adalah di kerjakan di daratan, tidak di perbolehkan mengerjakan shalat wajib di atas kendaraan kecuali dalam kondisi darurat, beda dengan shalat sunnah bisa di kerjakan di kendaraan, menghadap kiblat atau tidak pun tidak menjadi masalah, banyak sekali hadits yang menjelaskan tentang hal ini, hadits Abdullah bin Umar, hadits Anas bin Malik yang di sebutkan oleh Bukhori dan Muslim dimana Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam beliau shalat di atas kendaraan (ontanya), jadi onta itu berjalan kemana saja beliau shalat menghadap kiblat atau tidak, tidak jadi masalah akan tetapi ini hubungannya dengan shalat sunnah, sebab berbeda antara shalat sunnah dan shalat wajib, sebab ada beberapa keringanan dalam shalat sunnah yang tidak di berikan pada shalat wajib.

Contoh yang lain di perbolehkannya shalat sunnah dengan duduk walaupun dia mampu berdiri, meskipun dalam hal pahala berbeda, berbeda dengan shalat wajib jika dia mampu berdiri maka termasuk rukun shalat adalah dia shalat dengan berdiri.

Misal dalam pesawat datang waktu dhuha dan kita ingin melaksanakan shalat dhuha, maka boleh shalat dhuha di tempat duduknya, tapi shalat wajib tidak di perbolehkan, oleh karena itu kata Abdullah bin Umar:

وَكَانَ لاَ يُصَلِّى عَلَيْهَا الْمَكْتُوبَةَ

“Nabi sallallahu’alaihi wa sallam tidak mengerjakan shalat wajib di atas kendaraannya”

Ini dalam perjalanan yang sifatnya ringkas, misalnya kita dalam perjalanan dari Balikpapan menuju Jakarta, berangkat jam 12:00 (waktu dhuhur belum masuk), kemungkinan ketika sampai di sana mungkin masih mendapati waktu dhuhur, mungkin juga sudah memasuki waktu ashar, maka kita mengerjakan shalat jamak takhir, atau misalnya kita berangkat jam 14:00 (sudah masuk waktu dhuhur) memungkinkan kita untuk mengerjakan shalat jamak di Balikpapan (tempat tinggal kita) maka kita mengerjakan shalat dhuhur 4 rakaat, kemudian qamat dan mengerjakan shalat ashar 4 rakaat, mengapa 4 rakaat karena kita belum musafir, setelah musafir ada hukum mengqashar shalat, yaitu menjadikan shalat yang semula 4 rakaat menjadi 2 rakaat.

Jika dalam perjalanan yang sangat jauh misalnya, tidak memungkainkan bagi kita mengerjakan shalat kecuali mengerjakannya di atas pesawat, maka boleh bagi seseorang mengerjakan shalat di atas kendaraan (kapal laut atau pesawat) maka dia boleh mengerjakan shalat semampua dia, jika mampu berdiri maka shalat berdiri dan menghadap qiblat, namun jika dia tidak punya kemampuan maka dia mengerjakan shalat sesuai dengan keadaannya (duduk dengan menghadap qiblat atau tidak) dan tidak di perbolehkan bagi seseorang membiarkan waktu shalat dalam keadaan dia keluar dari waktu shalat sementara dia belum mengerjakan shalat tersebut, misalnya seseorang belum mengerjakan shalat dhuhur, ashar dan tiba di Arab Saudi jam 19:00 dan dia mengerjakan shalat dhuhur, ashar, magrib, isya maka ini tidak di perbolehkan sebab Allah subhanahu wa ta’ala telah menetapkan waktu shalat itu ada waktunya masing-masing.

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”

Jadi tidak di perbolehkan seseorang meninggalkan shalat hingga keluar dari waktu-waktunya

Selesai peringkasan Tuntunan Shalat Musafir bagian pertama dari rekaman ceramah Al-Ustadz Abu Karimah Askari di masjid Al-Ma’arij Balikpapan

Bersambung ke bagian kedua insya Allah……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s