Shalat Jum’at Bagi Musafir


Pada kajian sebelumnya telah di bahas Hadits Thariq bin Syihab yang menyebutkan tentang kewajiban shalat jum’at bagi setiap muslim kecuali 4 golongan:
وَعَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ; أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ إِلَّا أَرْبَعَةً:مَمْلُوكٌ, وَاِمْرَأَةٌ, وَصَبِيٌّ, وَمَرِيضٌ ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَقَالَ: لَمْ يَسْمَعْ طَارِقٌ مِنَ اَلنَّبِيِّ . وَأَخْرَجَهُ اَلْحَاكِمُ مِنْ رِوَايَةِ طَارِقٍ اَلْمَذْكُورِ عَنْ أَبِي مُوسَى
Dari Thariq Ibnu Syihab bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sholat Jum’at itu hak yang wajib bagi setiap Muslim dengan berjama’ah kecuali empat orang, yaitu: budak, wanita, anak kecil, dan orang yang sakit.” Riwayat Abu Dawud. Dia berkata: Thoriq tidak mendengarnya dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam Dikeluarkan oleh Hakim dari riwayat Thariq dari Abu Musa.
Pada kajian sebelumnya telah di bahas Hadits Thariq bin Syihab yang menyebutkan tentang kewajiban shalat jum’at bagi setiap muslim kecuali 4 golongan:

وَعَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ; أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ إِلَّا أَرْبَعَةً: مَمْلُوكٌ, وَاِمْرَأَةٌ, وَصَبِيٌّ, وَمَرِيضٌ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَقَالَ: لَمْ يَسْمَعْ طَارِقٌ مِنَ اَلنَّبِيِّ . وَأَخْرَجَهُ اَلْحَاكِمُ مِنْ رِوَايَةِ طَارِقٍ اَلْمَذْكُورِ عَنْ أَبِي مُوسَى

Dari Thariq Ibnu Syihab bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sholat Jum’at itu hak yang wajib bagi setiap Muslim dengan berjama’ah kecuali empat orang, yaitu: budak, wanita, anak kecil, dan orang yang sakit.” Riwayat Abu Dawud. Dia berkata: Thoriq tidak mendengarnya dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam Dikeluarkan oleh Hakim dari riwayat Thariq dari Abu Musa. Continue reading

Advertisements

keutamaan satu waktu pada hari jum’at


َوَعَنْهُ; أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ذَكَرَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ: ( فِيهِ سَاعَةٌ لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي, يَسْأَلُ اَللَّهَ تعالى شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ، وَأَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا )  مُتَّفَقٌ عَلَيْه. ِ وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ: ( وَهِيَ سَاعَةٌ خَفِيفَةٌ )

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam setelah menyebut hari Jum’at beliau bersabda: “Pada hari itu ada suatu saat jika bertepatan seorang hamba muslim berdiri untuk sholat memohon kepada Allah, maka niscaya Allah akan memberikannya sesuatu.” Kemudian beliau memberi isyarat dengan tangannya bahwa saat itu sebentar. Muttafaq Alaihi. Dalam suatu riwayat Muslim: “Ia adalah saat yang pendek.”

 

َوَعَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِيهِ سَمِعْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: ( هِيَ مَا بَيْنَ أَنْ يَجْلِسَ اَلْإِمَامُ إِلَى أَنْ تُقْضَى اَلصَّلَاةُ )  رَوَاهُ مُسْلِمٌ, وَرَجَّحَ اَلدَّارَقُطْنِيُّ أَنَّهُ مِنْ قَوْلِ أَبِي بُرْدَةَ.

Abu Burdah dari ayahnya Radliyallaahu ‘anhu berkata: “Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Saat (waktu) itu ialah antara duduknya imam hingga dilaksanakannya sholat.” Riwayat Muslim. Daruquthni menguatkan bahwa hadits tersebut dari perkataan Abu Burdah sendiri.

 

َوَفِي حَدِيثِ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ سَلَامٍ عِنْدَ ابْنِ مَاجَه ْ. وَجَابِرِ عِنْدَ أَبِي دَاوُدَ, وَالنَّسَائِيّ ِ: ( أَنَّهَا مَا بَيْنَ صَلَاةِ اَلْعَصْرِ إِلَى غُرُوبِ اَلشَّمْسِ ). وَقَدْ اِخْتُلَفَ فِيهَا عَلَى أَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعِينَ قَوْلًا, أَمْلَيْتُهَا فِي “شَرْحِ اَلْبُخَارِيِّ “

Dari hadits Abdullah Ibnu Salam menurut riwayat Ibnu Majah — dan dari Jabir menurut riwayat Abu Dawud dan Nasa’i: “Bahwa saat tersebut adalah antara sholat Ashar hingga terbenamnya matahari.” Hadits ini dipertentangkan lebih dari empat puluh pendapat yang telah saya (Ibnu Hajar) rangkum dalam Syarah Bukhari.

Simak pembahasannya

Download Kajian

Adab-adab dalam mendatangi shalat Jum’at


وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( مَنِ اغْتَسَلَ, ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ, فَصَلَّى مَا قُدِّرَ لَهُ, ثُمَّ أَنْصَتَ, حَتَّى يَفْرُغَ اَلْإِمَامُ مِنْ خُطْبَتِهِ, ثُمَّ يُصَلِّي مَعَهُ: غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ اَلْأُخْرَى, وَفَضْلُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ )  رَوَاهُ مُسْلِم 

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa mandi kemudian mendatangi sholat Jum’at, lalu sholat semampunya, kemudian diam sampai sang imam selesai dari khutbahnya, kemudian sholat bersama imam, maka diampuni dosa-dosanya antara Jum’at itu dan Jum’at berikutnya serta tiga hari setelahnya.” Riwayat Muslim.

Simak kajian audionya:

yang harus di lakukan pada hari jum’at

Dimana posisi ma’mum sendirian, berdua dan ma’mum wanita


Download kajian kitab Bulughul maram bersam Ust. Askary hafidhahulloh

Download Kajian

Transkrip kajian

Ma’ashiral muslimin rahimakumulloh

Walhamdulillah nahmadulloha tabaraka wata’ala wanasykuruh atas segala nikmat yang Alloh subhanahuwata’ala limpahkan kepada kita sekalian sehingga kita masih di berikan istiqamah dan kita masih di berikan ketetapan iman, semoga Alloh subhanahuwata’ala mengokohkan keimanan kita dan semoga Alloh jalla wa’ala senantiasa memberikan kesabaran pada diri-diri kita dalam menghadapi berbagai fitnah yang melanda pada zaman ini, sebab seorang yang hidup di zaman yang penuh fitnah ini ketika Alloh subhahanuwata’ala memberikan kemudahan baginya untuk istiqamah di atas al-haq berjalan di atas jalan kebenaran di atas metode dan manhaj Rasululloh sallallahu’alaihiwasallam dan para shahabatnya dan dia senantiasa berusaha memelihara dirinya dari berbagai macam fitnah, memelihara dirinya dari berbagai penyimpangan, penyimpangan syahwat, fitnah harta benda/fitnatul maal, fitnah wanita, fitnah dunia demikian juga fitnah subhat dari pemikiran-pemikiran yang rancu dari agama Alloh subhanahuwata’ala.

Ketika seseorang di pelihara darinya itu merupakan satu kebahagiaan dan kemuliaan hidup fiddunya walakhirah, Nabi sallallahu’alaihiwasallam menjelaskan hal tersebut dalam hadits Al-miqdad bin Al-aswad

إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنَ إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنِ إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنُ وَلَمَنْ ابْتُلِيَ فَصَبَرَ فَوَاهًا

Sesungguhnya orang yang paling berbahagia adalah orang yang di hindarkan dari berbagai fitnah (fitnah subhat, fitnatussyahawat, fitnah bid’ah, fitnah memakan sesuatu makanan yang di haramkan Alloh subhanahuwata’ala, fitnah penghasilan dari penghasilan yang haram, dan fitnatusysyahawat. Orang yang paling berbahagian adalah orang yang dihindarkan dari berbagai macam fitnah tersebut, penc) barang siapa yang di beri ujian oleh Alloh dan dia bersabar maka dialah yang mendapatkan kemenangan dan keberuntungan”

Oleh karena itu ma’asyiral muslimin rahimakumulloh kita hendaknya memohon kepada Alloh untuk mengokohkan hati-hati kita.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

Ya Alloh yang membolak-balikkan hati kokohkanlah hatiku di atas agamamu”

Ma’ashiral muslimin rahimakumulloh kita melanjutkan kembali kajian kita dari kitab Bulughul maram min adillatil ahkam dimana pada pertemuan sebelumnya kita telah membahas hadits Abu Hurairah radiallohuta’ala ‘anhu yang di riwayatkan oleh Al-Imam Muslim dimana Rasululloh sallallahu’alaihiwasallam menjelaskan tentang keutamaan shaf kaum lelaki dan keutamaan shaf kaum wanita.

خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا

Sebaik-baik barisan kaum lelaki adalah yang paling pertama, yang terburuk (yakni yang kurang pahalanya di bandingkan yang lainnya) adalah shaf yang terakhir dan shaf yang paling terbaik bagi kaum wanita adalah shaf yang paling terakhir dan yang terburuk adalah shaf yang pertama”

Yakni bagi wanita yang melaksanakan shalat berbarengan dengan jamaah kaum lelaki, adapun bila kaum wanita sendiri yang mengerjakan shalatul jamaah maka di kembalikan pada keumuman yang pertama yaitu shaf yang terdepan lebih baik dari shaf-shaf berikutnya.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, kita lanjutkan kitab Bulughul maram masih dalam pembahasan tentang tatacara shalat berjama’ah.

Berkata Al-hafidz Abul Fadl Ahmad bin Ali bin Hajar Al-Asqalani rahimahulloh beliau menyebutkan hadits:

وَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: ( صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ذَاتَ لَيْلَةٍ, فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ, فَأَخَذَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِرَأْسِي مِنْ وَرَائِي, فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْه

Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku pernah sholat bersama Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pada suatu malam. Aku berdiri di samping kirinya. Lalu beliau memegang kepalaku dari belakang dan memindahkanku ke sebelah kanannya.

Ibnu Abbas, Abdulloh Ibn Abbas/Abul Abbas salah seorang dari shahabat Nabi sallallahu’alaihi wasallam yang faqih mufassir, na’am sehingga disebabkan oleh keluasan ilmu yang beliau miliki beliau di juluki dengan Al-Bahru yang artinya lautan di sebabkan karena luasnya ilmu yang beliau miliki sebagaimana beliau juga di sebut sebagai habrul ummah / ulamanya ummat ini dan beliau juga di gelari dengan turjumanul quran / penafsir alquranul karim, kata Abdulloh bin Mas’ud radhiallohuta’ala’anhu:

نعم ترجمان القرآن ابن عباس رضي الله عنه

“Sebaik-baik penerjemah Al-quran adalah Abdulloh Ibn Abbas radhiallohu’anhu”

Yakni penafsir Al-quranul karim yang menjelaskan kandungan-kandungan yang terdapat dalam Al-quranul karim Abdullah Ibn Abbas radhiallohu’anhuma, dan tidaklah ilmu yang beliau miliki tersebut melainkan berkah dari doa Rasululloh sallallahu’alaihi wasallam kepada beliau:

اللهم فقهه في الدين، وعلمه التأويل

“Ya Alloh ajarkan kepada dia Agama (fahamkan kepada dia Agama) dan ajarkan kepadanya ilmu tafsir (Tafsir Al-quranul karim)”

Dan doa Nabi sallallahu’alihiwasallam ini dikabulkan oleh Alloh subhanahuwata’ala, beliau menjadi rujukan dari orang-orang setelahnya dari kaum muslimin dalam permasalahan tafsir, menafsirkan Al-quranul karim dan dalam sekian permasalahan-permasalahan fiqih.

Ibnu Abbas radhiallohu’anhuma beliau adalah shahabat Nabi sallallahu’alaihiwasallam sekaligus beliau juga termasuk kerabat, anak paman Rasululloh sallallahu’alaihi wasallam.

صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ذَاتَ لَيْلَةٍ

Aku shalat bersama Nabi sallallahu’alaihi wasallam di satu malam”

Ya’ni qiyamullail / shalat lail dimana Abdulloh ibn Abbas radiallohu’anhuma karena semangatnya beliau menuntut ilmu mempelajari fiqih dari Nabi sallallahu’alaihiwasallam maka beliau menyempatkan diri untuk menginap di rumah bibinya Maimunah bintu Harits, istri Rasululloh sallallahu’alaihiwasallam yang kebetulan pada malam itu merupakan malam gilirannya Maimunah sehingga Nabi sallallahu’alaihiwasallam menginap di rumah Maimunah dan ini di manfaatkan oleh Ibn Abbas.

Kedekatan beliau kepada Nabi sallallahu’alaihi wasallam yang juga merupakan kedekatan beliau kepada salah satu ummahatul mu’minin Maimunah bintu Harits sehingga beliau memanfaatkan hal tersebut sebagi wasilah untuk mendapatkan ilmu, apasih yang di kerjakan oleh Nabi sallallahu’alaihi wasallam di malam hari, walhasil Ibnu Abbas radiallohu’anhuma pun menginap di ruma Mainunah, maka beliaupun menceritakan apa yang di lakukan Rasululloh di malam hari, bahwa Nabi sallallahu’alaihi wasallam setelah pulang dari shalatul isya maka beliau berbincang sejenak bersama dengan keluarganya kemudian beliaupun beristirahat nah bangun di malam hari maka Nabi sallallahu’alaihi wasallam melakukan kebiasaan beliau setiap bangun malam mengawalai dengan bersiwak dan setelah itu bersuci dan bersiap untuk melakukan qiyamullail, maka inipun di perhatikan oleh Ibn Abbas radhiallohu’anhuma, ketika Nabi sallallahu’alihi wasallam hendak memulai qiyamullail beliau hendak shalat sendirian maka bangunlah Ibnu Abbas radhiallohu’anhu meniru apa yang di perbuat oleh Nabi sallallahu’alaihiwasallam lalu kemudian beliaupun ingin menjadi ma’mumnya Rasululloh sallallahu’alaihiwasalallam, maka diapun setelah melakukan aktifitas seperti yang di lakukan oleh Nabi kemudian mendatangi Nabi sallallahu’alaihi wasllamyang sedang mengerjakan shalat.

Maka ini menunjukkan bahwa pada awalnya Rasululloh sallallahu’alaihiwasallam shalat sendirian, Ibnu Abbas datang belakangan setelah beliau melakukan aktifitasnya kemudian mendatangi Nabi sallallahu’alaihi wasallam kemudaian shalat bersama Rasululloh shalatullail, nah inilah yang di katakan oleh Ibnu Abbas, disini Ibnu Hajar rahimahullohuta’ala menyebutkan dengan ringkas, kata Ibnu Abbas:

صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ذَاتَ لَيْلَةٍ

Aku shalat bersama Nabi sallallahu’alaihi wasallam di satu malam”

فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ

Maka akupun berdiri di sebelah kiri Nabi sallallahu’alaihiwasallam”

Berdiri di sebelah kiri, maka Nabi sallallahu’alaihiwasallam berdiri dan Ibnu Abbas berdiri di sebelah kirinya karena beliau hendak menjadi ma’mum

فَأَخَذَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِرَأْسِي

Maka Rasululloh sallallahu’alaihiwasallam pun memegang kepalaku”

مِنْ وَرَائِي

dari belakangku”

Jadi Nabi sallallahu’alaihiwasallam tangan beliau bergerak tapi dari belakang lalu kemudian memegang kepalanya Ibnu Abbas radhiallohuta’ala ‘anhuma dari belakang, sebab kalau dari depan gak mungkin karena akan lewat di depannya Rasululloh sallallohu’alaihi wasallam sementara Nabi sallallohu’alaihi wasallam melarang seseorang untuk lewat di hadapan orang yang shalat, oleh karena itu Rasululloh sallallohu’alaihiwasallam mengambilnya/memegangnya dari belakang.

فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ

Kemudian Nabi sallallohu’alaihi wasallam memindahkan aku ke kanan beliau ‘alaihishsholatuwassalam”

مُتَّفَقٌ عَلَيْه

Muttafakun ‘alaih (Hadits ini di riwayatkan oleh Bukhori dan Muslim, penc)”

Maka di dalam hadits Nabi sallallohu’alihiwa’ala alihi wasallam ini menjelaskan kepada kita tentang tata cara melaksanakan shalat berjama’ah apa bila yang melakukan jama’ah tersebut terdiri dari 2 orang adapun kalau lebih dari 2 orang maka tentu tidak menjadi masalah ma’mum berada di belakang atau lebih dari 3 orang, namun yang menjadi permasalahan apabila mereka hendak mengerjakan sholatul jama’ah 2 orang yang satunya menjadi imam dan yang satunya menjadi ma’mum maka di dalam hadits ini Rasululloh sallallohu’alaihi wasallam mengajarkan kepada kita bagai mana tata cara shalat berjamaah baik dalam shalat wajib maupun shalat sunnah ketika ma’mum hanya seorang diri, dimanakah berdirinya dan bagaimana caranya?

Dan kejadian ini tidak hanya di alami oleh Ibnu Abbas radhiallohu’anhu pernah juga di alami oleh shahabat yang lainnya diantaranya Jabir radhiallohu’anhu, di riwayatkan oleh Al-Imam Muslim rahimahulloh

Aku berdiri di sebelah kirinya Nabi sallalahu’alaihiwasallam ketika Rasululloh sallallahu’alaihiwasallam mengerjakan shalat lalu kemudian beliau menjadikan aku berdiri di sebelah kanan belaiu ‘alaihishsholatuwassalam”

Jadi di sebelah kanan imam, kemudian setelah itu datang lagi yang lain Jabbar bin shokhr datang dan juga shalat di samping Rasul sallallahu’alaihiwasallam, jadi Jabir radhiallohu’anhu shalat di samping kanan Nabi sallallohu’alaihiwasallam datang lagi Jabbar bin shokhr berdiri di sebelah kiri Nabi maka Rasululloh sallallahu’alaihiwasallam memegang tangan keduanya dan mendorongnya ke belakang, karena mereka sudah berdua.

Nah maka hadits yang di riwayatkan dari Jabir radhiallohu’anhu tersebut kandungnya sama dengan yang di riwayatkan oleh Ibnu Abbas, hanya dalam riwayat Imam muslim itu ada tambahan dengan datangnya Jabbar bin shokhr radhiallohuta’ala ‘anhu lalu kemudian Rasululloh sallallohu’alaihiwasallam mendorong mereka sehingga mereka berdiri tepat berada di belakang Nabi sallallohu’alaihiwasallam

Maka di dalam hadits ini kita mendapatkan beberapa faidah yang penting, terkhusus hubungannya dengan permasalahan shalat, dan ada juga beberapa faidah lainnya, diantara Faidah dari hadits ini:

Menjelaskan kepada kita mauqifnya/berdirinya seorang ma’mum seorang diri dan ma’mum tersebut laki-laki bukan wanita, maka di dalam hadits ini Nabi sallallohu’alaihiwasallam menjadikan Ibnu Abbas berdiri di sebelah kanan beliau, dan di tegaskan lagi di sebelah kanan ini dalam riwayat Imam Ahmad rahimahullah

فَجَعَلَنِي حِذَاءَهُ

Maka Nabi sallallohu’alaihiwasallam menjadikan aku sejajar dengannya”

Yang namanya حِذَاءَهُ itu sejajar tidak maju dan tidak mundur, sejajar bersama Rasululloh sallallohu;alaihiwasallam, maka hadits ini merupakan dalil bahwa apabila ma’mum seorang diri tempatnya adalah di sebelah imam sejajar dengan imam tidak mundur, menyelisihi pendapat Imam syafi’i rahimahulloh sebab beliau mengatakan bahwa apabila seorang ma’mum sendirian dia berdiri di sebelah kanan imam namun agak mundur dan itu yang banyak di praktekkan oleh mereka yang bermadzhab Syafi’i, mereka mundur padahal seharusnya yang di ajarkan oleh Nabi sallallohu’alaihiwasallam itu sejajar, bahkan di sebutkan dalam riwayat Imam Ahmad tersebut bahwa Nabi sallallohu’alaihiwasallam menjadikan Ibnu Abbas tepat فَجَعَلَنِي حِذَاءَهُ , maka ketika Rasululloh sallallohu’alaihiwasallam melanjutkan shalatnya, jadi Rasululloh sudah menempatkan Ibnu Abbas sejajar dengan beliau, maka Ibnu Abbas mundur sampai kemudian selesai shalat, maka setelah selesai shalat Nabi sallallohu’alaihiwasallam mengatakan kepada Ibnu Abbas:

مَا شَأْنِي أَجْعَلُكَ حِذَائِي فَتَخْنِسُ

Ada apa denganku, aku menjadikan kamu sejajar mengapa engkau mundur”

Di ingkari oleh Nabi sallallohu’alaihiwasallam apa yang di lakukan oleh Ibnu Abbas radhiallohu’anhuma, apa kata Ibnu Abbas:

أَوَيَنْبَغِي لِأَحَدٍ أَنْ يُصَلِّيَ حِذَاءَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ

Apakah sepantasnya seseorang itu shalat sejajar dengan Rasululloh sallallohu’alaihiwasallam, engkau adalah Rasululloh”

Mendengarkan jawaban Ibnu Abbas tersebut maka Nabi sallallohu’alaihiwasallam mendoakan Ibnu Abbas, beliau kagum kepada Ibnu Abbas dan beliau mendoakan Ibnu Abbas agar di berikan tambahan ilmu oleh Alloh subhanahuwata’ala.

Singkatan Hadits tersebut adalah pengingkaran Rasululloh sallallohu’alaihiwasallam ketika Ibnu Abbas mundur maka ini merupakan hujjah yang sangat kuat yang menyebutkan ketika ma’mum cuma satu orang berdiri di sebelah kanan imam dan sejajar dengan imam dan tidak mundur dalam riwayat yang lain di sebutkan:

فَقُمْتُ إِلَى جَنْبِهِ

Aku berdiri tepat di samping Rasululloh sallallohu’alaihiwasallam”

Kalau mundur kan tidak di sebut جَنْبِهِ (tepat di samping), oleh karena itu di sebutkan dalam riwayat Ibnu Juraij rahimahullohuta’ala bahwa ada yang bertanya kepada Atha’ mereka mengatakan tentang seseorang yang sholat bersama satu orang

Dimana tempat berdirinya?”

Kata Atha’ rahimahullohuta’ala: “Di sampingnya”

Lalu aku bertanya: “Apakah sejajar dengannya sampai betul-betul sejajar satu shaf dengannya sehingga tidak ada yang mundur dan tidak ada yang maju?”

Kata Atha’ radhiallohu’anhu: “Ya” (memang seperti itu, penc)

Lalu di tanya lagi: “Apakah dia tidak menjauh sehingga tidak ada jarak antara keduanya?”

Atha’ menjawab: ”Ya”

Ini juga yang banyak di selisihi kaum muslimin khususnya mereka yang bermadzhab Syafi’i, sering kita mendapati kalau mereka shalat 2 orang maka makmumnya ini selalu mundur, yang repotnya kadang-kadang kalau dia ngotot dengan perbuatannya itu, gimana kalau ada seseorang entah karena dia itu bermadzhab Syafi’i atau karena seperti itulah yang di ajarkan tanpa dia mengetahui itu madzhab Syafi’i atau bukan kemudian kita datang masbuk misalnya, atau kita ingin shalat berjamaah kita hanya mendapati satu orang lalu kemudian kita menjadi imam dia menjadi makmum kita ingin membuat dia sejajar dia mundur terus gimana?

Ya kalau kita bisa nasihati kemudian kita jelaskan bahwa yang sunnah adalah sejajar walhamdulillah, cuman kadang-kadang sebagian ngotot, ngotot nggak punya dalil lagi ya sudahlah jika dia tetap seperti itu ya dia yang bertanggung jawab dengan perbuatannya, nah ini ma’asyiral ikhwah rahimakumulloh.

Dan di dalam hadits ini juga menjelaskan bahwa makmum ketika sendirian buakan di sebelah kiri imam tapi di sebelah kana imam oleh karena itu Nabi sallallohu’alaihiwasallam beliau melakukan dengan perbuatannya memindahkan Ibnu Abbas dan memindahkan Jabir radhiallohu’anhuma dari sebelah kiri ke sebelah kanan beliau, lalu terjadi perselisihan di kalangan para ulama “Apa hukumnya makmum berdiri di sebelah kiri imam?”

setelah kita mengetahui dari hadits tadi bahwa yang sunnah adalah makmum di sebelah kanan, apakah shalatnya batal atau tidak, nah ini yang menjadi perselisihan di kalangan para ulama.

Ada sebahagian pendapat dan itu yang masyhur dari pendapat al-imam Ahmad dan di ikuti oleh murid-muridnya para madzhab imam Ahmad mereka berpendapat bahwa tidak sah shalat seorang makmum apaila dia berdiri di sebelah kiri imam dan ini juga yang di kuatkan oleh Syaikh Sholeh fauzan hafidhohullohuta’ala, alasannya sebab Nabi sallallohu’alaihiwasallam mengingkari perbuatan Ibnu Abbas, menunjukkan wajibnya, namun pendapat ini di selisihi jumhur ulama dari madzhab Malikiyah, Syafi’iyah, hanabilah mereka mengatakan bahwa shalat makmum yang berdiri di sebelah kiri imam sahalatnya sah namun menyelisihi sunnah, dan pendapat ini pula yang di kuatkan oleh Syaihkul Islam Ibnu Taimiah, Syaikh Al-utsaimin, Al-‘allamutu Sa’di rahimakumulloh dan pendapat ini yang dhohir yang lebih mendekati kebenaran sebab menghukumi batalnya shalat seseorang butuh dalil khusus, dan hadits ini tidak cukup untuk mengatakan batalnya sebab ini merupakan kejadian perbuatan dari perbuatan Nabi sallallohu’alaihiwasallam dan asal hukum perbuatan Nabi sallallohu’alaihiwasallam asal hukumnya adalah sunnah, disini beliau tidak menyertakan perbuatannya dengan ucapan.

Kalaupun kita menghukumi ini wajib, maka wajib karena di lakukan oleh Nabi memmindahkan Jabir, namun untuk menghukumi batalnya ini memerlukan dalil khusus yang meneyebutkan batalnya. Ini yang dhohir wallohuta’ala a’lam

Dan di dalam hadits ini kita juga mendapatkan faidah di perbolehkannya seseorang merubah niatnya di pertengahan shalat, sebab Nabi sallallohu’alaihiwasallam beliau awalnya shalat sendirian, kemudian Ibnu Abbas datang di pertengahan shalat, tentu terjadi perubahan niat dari shalat sendirian kemudian menjadi Imam.

Dan di dalam hadits ini juga kita mendapatkan faidah di perbolehkannya mengerjakan shalat-shalat sunnah dengan berjama’ah, namun kita perlu mengetahui bahwa shalat sunnah/nafilah yang di kerjakan secara berjama’ah terbagi menjadi dua bahagian

Yang pertama shalat sunnah atau shalat Nafilah yang memang di sebutkan oleh Nabi sallallohu’alaihiwasallam tentang keutamaannya dan beliau mensyariatkannya, nah apa yang di sebutkan di dalam nash/hadits Nabi sallallohu’alaihiwasallam bahwa Rasululloh menganjurkan shalat tersebut secara berjamaah padahal itu shalat sunnah maka di syariatkan di kerjakan secara berjama’ah, seperti shalat istisqa, shalat gerhana bagi yang berpendapat itu sunnah, bahwa ada yang berpendapat itu wajib dan ada pula yang berpendapat itu sunnah, kalau yang berpendapat itu sunnah maka dianjurkan untuk berjama’ah. Shalatuttarawih maka di anjurkan untuk berjamaah.

Namun ada shalat nafilah yang tidak ada nash untuk dilakukan secara berjamaah, apabila tidak ada nash maka di perbolehkan untuk di kerjakan secara berjamaah namun tidak sering, seperti sholat lail, shalat dhuha, shalat witir di luar bulan ramadhan, adapun bila menganjurkan untuk qiyamullail secara berjamaah secara terus menerus maka ini perbuatan bid’ah, ada sebagian kebiasaan kaum muslimin terutama yang tinggal di lingkungan pondok pesantren setiap malam di bangunkan untuk shalat malam secara berjama’ah, anda memangunkan orang untuk shalat berjamaah itu bagus, tapi jangan sampai kita hendak menghidupkan sunnah tapi malah terjerumus dalam mukholafatussunnah/perkara menyelisihi sunnah.

Nabi shallallohu’alaihiwasallam tidak pernah menganjurkan kepada ummatnya setiap malam untuk qiyamullail bahkan beliau tidak membangunkan istrinya, tidak pula Ibnu Abbas.

Di dalam hadits ini juga menjelaskan di perbolehkannya melakukan gerakan-gerakan apabila ada hajah, lihat Nabi sallallohu’alaihiwasallam beliau menggerakkan tangannya untuk menarik Ibnu Abbas, Jabir ketika Jabbar bin shakhr datang beliau mendorong mereka kebelakang agar kemudian mereka shalat di belakang Nabi, adapun yang tercela adalah perbuatan sia-sia begini begini seperti orang yang sedang senam, yang kita khawatirkan adalah gerakannya membatalkan shalat adapun gerakan yang ringan dan ada hajah maka ini di perbolehkan.

Dan dalam hadits ini menjelaskan di perbolehkannya berjalan di dalam shalat apabila ada hajah menyelisihi pendapat mereka yang terlalu kaku dalam mengamalkan fiqih, ada sebagian mereka yang berpendapat hanya 3 kali gerakan yang di perbolehkan, jadi kalau gatel yang boleh hanya menggaruk sekali, balik lagi sudah 2 kali, sekali lagi 3 kali jangan lebih kalau lebih batal.

Ini berapa kali gerakan yang dilakukan Ibnu Abbas berjalan sampai beliau berdiri di sebelah kanan Imam, apalagi dia anak kecil butuh berapa langkah untuk berjalan.

Nabi sallallohu’alaihiwasallam beliau pernah shalat di atas mimbar memimpin shalat para shahabat, beliau ketika berdiri diatas mimbar, rukuk, i’tidal di atas mimbar, ketika beliau hendak sujud beliau turun ke belakang lalu beliau sujud, bangkit kerakaat kedua beliau naik lagi, ketika hendak sujud turun lagi itu sudah berapa gerakan?

Termasuk ketika seseorang sholat dan menjadikan orang lain sutroh dan orang tersebut pergi, apa yang dia lakukan? Sementara dia wajib untuk mengguanaka pembatas dalam shalat dan Nabi sallallohu’alaihiwasallam memerintahkan itu

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيُصَلِّ إِلَى سُتْرَةٍ وَلْيَدْنُ مِنْهَا

Jika salah seorang dari kalian shalat, hendaklah menghadap ke sutrah dan mendekatinya”

Sehingga apabila dia memungkinkan untuk mendekati sutrahnya seperti tiang atau jalan ke depan untuk mendekati dinding maka yang seperti ini di perbolehkan jika ada hajah.

Adapun jika berjalan dari belakang situ misalnya ke dinding depan karena di kana kirinya tiadak ada tiang maka yang seperti ini bukan shalat yang seperti ini, lalu bagaimana kalau keadaannya seperti ini ya sudah

لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا

Allah tidaklah membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya.”

Kemudian di dalam hadits ini juga menjelaskan kepada kita bahwa bukanlah hal yang tercela memegang kepala orang lain, di sini Rasululloh sallallohu’alaihiwasallam memegang kepalanya Ibnu Abbas, na’am ini menyelisihi kebiasaan masyarakat bahwa jika di pegang kepalanya ini merendahkan, di tinjau secara hukum syar’i maka yang seperti ini tidak mengapa, apalagi di kalangan bangsa Arab mereka seneng bila di pegang kepalanya, jenggotnya mereka seneng.

Tapi ya memang kebiasaan orang indonesia ini agak berubah sedikit dari fitrah kalau di pegang bahagian belakangnya tidak mengapa tapi kalau di arab di pegang bahagian belakangnya dan di ketahui dia orang yang mengerti itu bisa mati, ma’asyiral muslimin rahimakumulloh menimbulkan perselisihan seperti jika orang indonesia ke yaman berkumpul dengan orang arab sering terjadi kesalah pahaman

Dan di dalam hadits ini juga menjelaskan fiqih Ibnu Abbas dimana beliau sangat bersemangat untuk menimba ilmu untuk mengetahui langsung dari Nabi sallallohu’alaihiwasallam dalam urusan Dien, mengetahui langsung apa yang di lakukan Nabi sallallohu’alaihiwasalallam di dalam rumah dan ini merupakan keutamaan Ibnu Abbas, banyak para shahabat mereka mengetahuai keadaan Nabi sallallohu’alaihiwasallam tapi hanya di luar rumah.

Dahulu sebelum turunnya ayat hijab, Anas bin Malik sering keluar masuk rumah Nabi sallallohu’alaihiwasallam, namun setelah turunnya ayat hijab karena Anas bin Mlik bukan mahram maka beliau tidak lagi di perbolehkan memasuki rumah Nabi sallallohu’alaihiwasallam, sehingga yang masuk adalah mereka yang ada hubungan kekerabatan, sehingga kedekatan Ibnu Abbas dengan Maimunah sebagai bibi beliau maka ini di gunakan sebai kesempatan untuk menuntut ilmu, maka dari sini juga kita mendapatkan faidah jika diantara keluarganya ada yang memiliki ilmu manfaatkan, jadikan dia sebagai tempat untuk belajar.

Oleh karena itu Muhammad bin Ja’far beliau mulazamah denga Syu’bah ibn Hajjaj selam 20 tahun sebab Syu’bah Ibn Hajjaj ini menikahi ibunya Muhmmad bin Ja’far sehingga Muhammad bin Ja’far ini statusnya sebagi rabibnya Syu’bah, ini di manfaatkan oleh Muhammad bin Ja’far sehingga beliau di percaya paling kokoh dalam meriwayatkan hadits dari Syu’bah radhiallohu’anhu.

وَعَنْ أَنَسٍ قَالَ: ( صَلَّى رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقُمْتُ وَيَتِيمٌ خَلْفَهُ, وَأُمُّ سُلَيْمٍ خَلْفَنَا ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيّ

Dari Anas beliau berkata: Rasululloh sallallohu’alaihiwasallam shalat maka akupun berdiri bersama dengan Yatim (Dzumairah) di belakang beliau dan Ummu Sulaim di belakng kami” Muttafaqun ‘alaih diriwayatkan oleh Imam Bukhari rahimahulloh

Yatim adalah seorang yang di tinggal mati ayahnya yang usianya belum baligh, dan dalam hadits Anas rahiallohu’anhu ini menjelaskan bahwa jika makmum terdiri dari dua orang maka mereka berdiri di belakang imam, bukan di sampimng sebagai mana yang di katakan oleh Anas bin Malik

فَقُمْتُ وَيَتِيمٌ خَلْفَهُ

Aku berdiri bersama anak yatim di belakang Rasululloh sallallohu’alaihiwasallam”

Dan di dalam hadits ini juga menunjukkan bahwa shaf anak kecil sah, oleh karena itu Nabi sallallohu’alaihiwasallam mendirikan Anas bin Malik di belakang beliau tidak di samping, sementara anak yatim ini belum mencapai baligh, kalaulah shaf anak kecil itu tidak di anggap tentu Anas bin Malik akan di berdirikan di samping beliau bersama anak kecil itu, ternyata berdirinya di belakang Nabi sallallohu’alaihiwasallam, maka ini menunjukkan shaf anak kecilpun sah.

Dan di dalam hadits ini kita mendapatkan faidah bahwa seorang wanitan walaupun dia seorang diri berdirinya di shaf tersendiri di belakang, disini kata Anas bin Malik

وَأُمُّ سُلَيْمٍ خَلْفَنَا

Dan Ummu Sulaim berdiri di belakang kami”

Jadi Rasululloh berdiri di depan sebagai Imam, Anas bin Malik bersama Yatim di belakang beliau dan wanita itu Ummu sulaim berada di belakangnya Anas bin Malik dan anak yatim padahal dia seorang diri yang demikina di perbolehkan dan itulah yang harus dan tidak ada perbedaan di dalam hal ini apakah wanita itu sebagai mahramnya atau bukan, sebab ada juga yang shalat dia shalat bersama dengan istrinya, istrinya berdiri di sebelah kanannya dengan alasan dia seorang diri, ana gak tau bisa khusuk gak ini, na’am ini menjadi masalam ma’asyiral ikhwah rahimakumulloh.

Ada lagi yang shalat bersama pacarnya, na’am dia telah berbuat maksiat dengan perbuatannya itu ngawur lagi ini semua menyelisihi syariat di sebabkan oleh kejahilan/kebodohan, nah meskipun dia mahram, meskipun dia istri kita meskipun dia anak kita kalau ada satu orang laki-laki dia shalat bersama seorang wannita mahramnya shalatnya di belakang, tetep di belakang, wanita shafnya sendiri.

Dan ini juga menjelaskan bahwa islam sangat menjaga kita dari yang namanya ikhtilat pencampuran antara laki-laki dan perempuan, jadi di pisah banyak hadits-hadits yang menjelaskan tentang hal itu, kecuali dalam kondisi darurat seperti ketika menunaikan haji karena sulit menghindari pencampuran, tapi selama memungkinkan itu menjadi suatu hal yang wajib di mana saja di sekolah-sekolah, di universitas wajib bagi kaum muslimin untuk memisahkan antara lelaki dan wanita, oleh karena itu Nabi sallallohu’alaihiwasallam memperingatkan pada wanita

عَلَيْكُنَّ بِحَافَّاتِ الطَّرِيقِ

Tidak ada hak bagi wanita untuk berjalan di tengah jalan”

Yaitu maksudnya dia memberanikan diri untuk bertabrakan dengan seorang laki-laki, tidak sepantasnya.

Nah ini ma’asyiral muslimin rahimakumulloh saya kira ini yang kita jelaskan pada malam ini insyaAllohu ta’ala, semoga Allohu ta’ala memberikan kepada kita tambahan ilmu dan memberikan taufik dan memberikan kemudahan kepada kita untuk beramal shalih.

Waakhiru da’wana Anilhamdulillahirabbil’alamiin

Bila seorang ma’mum mendapati imam dalam keadaan ruku’


Download Kajian Bulughul Maram

 

Download kajian

 

Transkrip kajian

Ma’asyiral muslimin rahimakumulloh

Kita kembali berkumpul di masjid Zaadul ma’ad dan kembali membahas tentang kitab Bulughul maram karya Ibnu Hajar Al-asqalani rahimahullohuta’ala

Dan pada pertemuan sebelumnya kita telah membahas hadits Ibn Abbas dan Anas bin Malik radhiallohu’anhuma tentang menyusun shaf dalam shalat, apabila shalat berjamaah terdiri dari satu makmum dan Imam dimana posisinya makmum dan juga apabila makmum seorang wanita telah di jelaskan oleh Anas bin Malik radhiallohu’anhu

Berkata Alhafidz Ahmad bin Ali bin Hajar Al-asqalani:

وَعَنْ أَبِي بَكْرَةَ رضي الله عنه أَنَّهُ اِنْتَهَى إِلَى اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ رَاكِعٌ, فَرَكَعَ قَبْلَ أَنْ يَصِلَ إِلَى اَلصَّفِّ, فَقَالَ لَهُ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ( زَادَكَ اَللَّهُ حِرْصًا وَلَا تَعُدْ )  رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ وَزَادَ أَبُو دَاوُدَ فِيهِ: ( فَرَكَعَ دُونَ اَلصَّفِّ, ثُمَّ مَشَى إِلَى اَلصَّفِّ )

Dari Abu Bakrah Radliyallaahu ‘anhu bahwa dia datang kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam ketika beliau ruku’. Lalu ia ruku’ sebelum mencapai shof. Maka Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda padanya: “Semoga Allah menambah semangatmu dan jangan mengulanginya.” Riwayat Bukhari. Abu Dawud menambahkan dalam hadits itu: Ia ruku’ di belakang shaf kemudian berjalan menuju shof.

Abu Bakrah Nufai’ ibn Harits ibn kaladah Atstsaqafi radhiallohu’anhu, ada yang mengatakan bahwa Al-haris itu bukanlah ayahnya, namun Al-harits itu adalah tuannya dari statusnya sebagai budak, adapun ayahnya adalah Masruh, maka penyebutan Nufai’ ibn Harits itu di nisbatkan kepada tuannya dan beliau termasuk diantara shahabat Nabi pilihan yang memiliki keteguhan dalam menjalankan syariat Alloh subhanahuwata’ala dan beliau termasuk shahabat yang menjauh dari fitnah ketika terjadi perselisihan diantara para shahabat radhiallohu’anhum. beliau yang meriwayatkan hadits:

عَن أَبِي بَكْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا تَوَاجَهَ الْمُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا وَكِلَاهُمَا يُرِيدُ أَنْ يَقْتُلَ صَاحِبَهُ فَقَتَلَ أَحَدُهُمَا الْآخَرَ فَهُمَا فِي النَّارِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا الْقَاتِلُ فَمَا بَالُ الْمَقْتُولِ قَالَ لِأَنَّهُ أَرَادَ قَتْلَ صَاحِبِهِ

Dari Abu Bakrah ia berkata; Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Apabila dua orang muslim saling berhadapan dengan pedangnya, sedangkan keduanya hendak membunuh lawannya, hingga salah satu dapat membunuh yang lain, maka keduanya masuk neraka.” Lalu ditanyakan; “Wahai Rasulullah, demikian yang membunuh (masuk neraka), lalu kenapa yang terbunuh juga?” Beliau bersabda: “Karena ia menginginkan untuk membunuh temannya.”

Hadits Abu bakrah yang pertama merupakan hadits yang shohih sebagaimana kita dengarkan bahwa hadits tersebut diriwayatkan oleh Al-imam Al-Bukhori rahimahulloh, dan hadits ini termasuk di antara hadits yang sangat penting dan ada beberapa hukum yang di bangun di atasnya sebagaimana yang akan kita jelaskan dalam pembahasan kita insyaAllohuta’ala.

Kandungan hadits ini menyebutkan bahwa Abu Bakrah terlambat dalam mendatangi shalat berjama’ah sehingga beliaupun ketika sampai di masjid telah mendapati Rasululloh sallallohu’alaihi wasallam dalam keadaan ruku’, dan di sebutkan dalam beberapa riwayat, karena riwayat ini di riwayatkan dari berbagai jalan yang menjelaskan bahwa Abu Bakrah masuk dalam keadaan ruku’ dan berjalan dalam keadaan ruku’ menuju shaf. Dan dalam riwayat yang lain di sebutkan bahwa Abu Bakrah radhiallohu ta’ala ‘anhu beliau tergesa-gesa dan tergopoh-gopoh ingin mendapatkan rakaat bersama Rasululloh Sallalaohu’alaihi wasallam maka pada saat beliau telah sampai ke masjid beliau telah mendapatkan Rasululloh sallallohu’alaihi wasallam bersama kaum muslimin telah ruku’, maka Abu Bakrah Radhiallohu ta’ala ‘anhu  beliau tidak ingin ketinggalan, maka beliaupun segera ruku’ kemudian setelah itu beliau mendekati shaf berjalan dalam keadaan ruku’ menuju shaf, maka setelah selesai salam Rasulloh sallallohu’alaihi wasallam mengatakan pada beliau

زَادَكَ اَللَّهُ حِرْصًا وَلَا تَعُدْ

Semoga Alloh subhanahuwata’ala menambah semangatmu dan jangan engkau ulangi”

Kata Nabi sallallohu’alaihi wasallam : Walaa ta’ud (jangan engkau mengulangi) ini menjadi perselisihan di kalangan para ulama yang perselisihan ini di bangun di atas hukum “apakah boleh melakukan sesuatu itu atau tidak?” sebagaimana yang akan kita jelaskan, bahwa para ulama berselisih dalam memahami hadits nabi “Walaa ta’ud”.

Sebagian para ulama memahami bahwa ucapan Nabi tersebut yaitu jangan kamu mengulangi terlambat ketika datang waktu shalat jama’ah

Pendapat kedua dari para ulama yaitu jangan kamu mengulangi yaitu ketika kamu berjalan masuk kedalam shaf sudah dalam keadaan ruku’, jangan kamu mengulangi perbuatan tersebut

Dan pendapat yang ketiga yaitu yang di maksud Walaa Ta’ud adalah jangan kamu mengulangi ketika kamu terburu-buru mendatangi shalatul jama’ah karena ingin mendapati shalat jama’ah maka tergesa-gesa dalam mendatanginya

dan masih banyak pendapat yang lainnya yang menjelaskan makna Walaa Ta’ud, namun tiga pendapat ini saja yang kita sebutkan yang mencakup pembahasan hadits ini.

Bagi siapa yang melihat jalur-jalur ini demikian juga adi kuatkan oleh penguat-penguat yang lain menunjukkan bahwa pendapat yang rajih bahwa yang di maksud dengan perkataan Nabi   وَلَا تَعُدْ “jangan kamu mengulangi” maksudnya jangan kamu mengulangi perbuatan tergesa-gesa, ini yang lebih mendekati kebenaran dan di kuatkan oleh banyak dari kalangan para ulama Al-hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani Ashshon’ani dalam subulussalam, Ibnu Utsaimin, Al-albani, Ibn Baz rahimakumullohuta’ala.

Mengapa kita menguatkan pendapat ini, maksud perkataan Nabi وَلَا تَعُدْ “jangan kamu mengulagi” yaitu jangan kamu mengulangi perbuatanmu tergesa-gesa ketika kamu mendatangi sholatul jamaah :

Alasan Pertama.

Sebab dalam mendatangi Jama’ah kita di anjurkan untuk tidak tergesa-gesa yang menyebabkan seseorang tersengal-sengal nafasnya, dan dalam riwayat Imam Bukhori dan Muslim dari Abu Hurairah berkata,

أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَلَا تَأْتُوهَا تَسْعَوْنَ وَأْتُوهَا تَمْشُونَ عَلَيْكُمْ السَّكِينَةُ فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا

Dari Abu Huroiroh berkata: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika shalat sudak ditegakkan (iqamatnya) janganlah kalian mendatnginya dengan tergesa-gesa. Datangilah dengan berjalan tenang. Maka apa yang kalian dapatkan shalatlah, dan mana yang ketinggalan sempurnakanlah.”

Tergesa-gesa atau berlari terdapat aturan tersendiri dalam hal ibadah seperti misalnya ketika sa’i kita di anjurkan untuk berlari-lari kecil ketika sampai di lembah antara sofa dan marwa.

apa yang kalian dapati dalam sholat maka maka sholatlah, lanjutkan sholat bersama imam dan apa yang tertinggal darinya maka sempurnakanlah, maka hikmahnya ketika kita mendatangi shalat dalam keadaan tenang adalah agar kemudian kita masuk kedalam shaf dalam keadaan tenang dan khusuk dalam mengerjakan shalat, oleh karena itu hadits Abu hurairah ini menguatkan pendapat bahwa ketika seseorang mendatangi sholat hendaknya mendatani shalat dengan keadaan tenang dan tidak terburu-buru

Kemudian alasan yang ke dua yang mengatakan bahwa yang di maksud dengan “jangan kamu mengulangi” yaitu jangan kamu mengulangi perbuatan mu ruku’ sebelum masuk shaf shalat, maka ini berkata pendapat yang ketiga bahwa ini adalah pendapat yang keliru dalam artian Rasululloh sallallahu’alaihiwasallam tidak mungkin beliau melarang  Abu Bakrah radhiallohuta’ala ‘anhu dari perbuatan beliau ruku’ sebelum masuk kedalam shaf di sebabkan karena riwayat-riwayat yang di sandarkan kepada Rasululloh sallallahu’alaihiwasallam dan yang masyhur dari kalangan ulamaussalaf menunjukkan bahwa perbuatan itu di bolehkan, perbuatan seseorang ketika imam dalam keadaan ruku’ dan ingin mendapati bersama imam ruku’ tapi dia belum sampai ke shaf maka di perbolehkan bagi dia sebelum sampai ke shaf dia telah ruku’, yaitu dengan syarat jarak antara dia melakukan ruku’ sampai menuju  ke shaf itu tidak terlalu jauh, jangan sampai ketika masih berada di ujung sana melihat imam telah ruku’ maka dia rukuk kemudian berjalan terus sampai ke shaf, na’am tapi mendekati, begitu mendekati shaf shalat maka dia ruku’, setelah dia rukuk kemudian sambil jalan mendekati shaf.

Hal ini telah di riwayatkan dalam beberapa atsar diantaranya hadits yang di riwayatkan oleh athtabrani dalam kitabnya Almu’jamul Ausath dari Ibn Juraij dari Atha’ Ibn Abi Rabah bahwa beliau mendengarkan Abdulloh ibn Zubair mengatakan, pada waktu itu dia mengatakan di atas mimbar beliau berkata:

“Apabila salah seseorang masuk kedalam masjid, dalam keadaan manusia sedang dalam keadaan ruku’ maka hendaknya dia ruku’ pada saat dia masuk untuk bergabung kemudian dia melangkah dalam keadaan ruku’ sampai dia masuk kedalam shaf, seungguhnya demikian tiu termasuk perbuatan sunnah”

Apabila seorang shahabat mengatakan ini adalah sunnah maka yang di maksud adalah sunnah Rasululloh sallallahu’alaihiwasallam, di sebutkan secara mutlak, demikian pula tabi’in yang mengatakan ini adalah sunnah maka yang di maksud adalah sunnah Rasululloh sallallahu’alaihiwasallam, namun hukum haditsnya mursal karena tabi’in meriwayatkan hadits langsung dari Nabi sallallohu’alaihi wasallam riwayatnya mursal, tapi shahabat  maka Ibnu zubair radhiallohuta’ala ‘anhu beliau mengatakan itu di atas mimbar tentunya banyak orang-orang yang menghadiri apa yang di sebutkan oleh Ibn Zubair.

Atha’ yang meriwayatkan hadits ini dari Ibnu Zubair beliau mengatakan ” sungguh aku telah melihat Ibn Zubair telah melakukan perbuatan itu”

Kata Ibnu Juraij yang meriwayatkan hadits ini dari Atha’ mengatakan “Sungguh aku telah melihat Atha’ beliau telah melakukan perbuatan itu”

Hal ini menunjukkan bahwa ini adalah amalan yang berantai bahwa para shahabat demikian pula para tabi’ain telah mengamalkan amalan ini, dan riwayat ini telah di shahihkan oleh para ulama, Al-albani rahimahullohuta’ala telah menyebutkan hadits ini dalam silsilah Al-ahadits Ashshohihah pada jilid yang pertama nomor hadits 229, dan ini yang di amalkan oleh para shahabat tambah lagi para shahabat seperti Abu bakar Ashshiddiq radhiallohuta’ala ‘anhu beliau mengamalkan amalan ini, Zaid bin tsabit radhiallohuta’ala ‘anhu sebagaimana yang di riwayatkan oleh Albaihaqi rahimahullohuta’ala bahwa ketika Abu bakar Ashsiddiq dan zaid bin tsabit bahwa keduanya masuk kedalam masjid dalam keadaan  imam ruku’ maka keduanya pun segera ruku’ kemudian mereka mendekati dalam keadaan ruku’ sampai keduanya bergabung kedalam shaf shalat jama’ah. ini Abu bakar Ashshiddiq beliau orang yang sangat dekat dengan Nabi sallallahu’alaihi wasallam, Zait bin tsabit beliau termasuk penulis wahyu ilahi juga melakukannya bersama Abu Bakar Ashshiddiq

Di kuatkan pula oleh riwayat yang lain yang diriwayatkan dari Abu Bakr bin Abi syaibah dan Aththabrani dalam majmu’atul kabir dari zaid in Wahb, kata zaid bin Wahb”

“Aku keluar bersama Abdulloh Ibn Mas’ud dari rumahnya menuju ke masjid pada saat kami berada di tengah masjid maka imam pun ruku’ maka Abdulloh bin Mas’ud segera bertakbir kemudian ruku'”

Kata Zaid bin wahb ” Maka akupun ruku’ bersama Abdulloh bin Mas’ud kemudian kamipun berjalan dalam keadaan ruku’ sampai kami mencapai shaf, begitu kami bergabung dalam sholatul jama’ah kaum muslimin sudah mengangkat kepala mereka”

Begitu telah selesai shalatnya beliau berkata ” saya ingin menambah”  (karena Zaid bin Wahb menganggap apa yang beliau dapati bersama imam ruku’ tidaklah teranggap satu rakaat) dan dia akan berdiri lagi untuk menambah rakaat namun di tarik oleh Ibn mas’ud dan di dudukkan, lalu kata Ibn Mas’ud kepada Zaid bin wahb “tidak perlu kamu berdiri lagi untuk menambah satu raka’at”   dan sanad hadits ini di shahihkan oleh syaikh Albani rahimahullohuta’ala.

Alasan yang ketiga, di kuatkannya alasan ini dengan hadits-hadits yang datang dari jalur riwayat yang lain yang datang dari Nabi  sallallohu’alaihi wasallam mengingkari perbuatan Abu Bakrah di sebabkan karena beliau tergesa-gesa bukan karena beliau ruku’ kemudian berjalan sampai ke shaf, ini di kuatkan oleh riwayat Imam Ahmad rhahimahullohuta’ala dari hadits Abu Bakrah:

عَبْدَ الْعَزِيزِ بْنَ أَبِي بَكْرَةَ يُحَدِّثُ أَنَّ أَبَا بَكْرَةَجَاءَ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَاكِعٌ فَسَمِعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَوْتَ نَعْلِ أَبِي بَكْرَةَ وَهُوَ يَحْضُرُ يُرِيدُ أَنْ يُدْرِكَ الرَّكْعَةَ فَلَمَّا انْصَرَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ السَّاعِي قَالَ أَبُو بَكْرَةَ أَنَا قَالَ زَادَكَ اللَّهُ حِرْصًا وَلَا تَعُدْ

Abdul Aziz bin Abu Bakrahmenceritakan bahwa Abu Bakrah datang hendak shalat, sementara Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dalam keadaan ruku’, Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam mendengar suara sandal Abu Bakrah, ketika ia hendak mendapatkan raka’at shalat, seusai mengerjakan shalat, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang tadi berlarian?.” Abu Bakrah menjawab; “Saya, ” Beliau bersabda: “Semoga Allah menambah semangatmu, janganlah kamu ulangi lagi.”

Dalam riwayat yang lain kata Abu Bakrah dalam keadaan nafasku terengan-engah, oleh karena itu riwayat ini menguatkan pendapat yang ketiga.

Kemudian, termasuk kedalam permasalahan yang di jelaskan oleh para ulama dalam menjelaskan hadits Abu Bakarah radhiallohu’anhu ini adalah permasalahan ketika kita mendapati imam dalam keadaan ruku’ (Masbuk), sehingga dia tidak mendapati imam dalam keadaan berdiri yang berarti tidak membaca surah Al-fatihah, apakah orang yang seperti ini keadaannya ketika mendapati imam ruku’ dan ruku’ bersama imam dia berarti mendapati raka’at atau tidak? ini juga menjadi perselisihan yang sangat sengit di kalangan para ulama, namun perlu di ketahui bahwa dalam hal ini seseorang perlu membahas secara ilmiah dalam artian terkadang terjadi permasalahan selisih pendapat yang masing-masing memiliki dalil yang saling tarik menarik, maka perselisihan yang semacam ini hendaknya tidak di jadikan sebagai bahan untuk berpecah belah, sebab perselisihan itu bermacam-macam, ada perselisihan yang sifatnya tidak di perbolehkan seseorang mentolerir perselisihan itu, Kebenaran harus di sampaikan seperti misalnya perselisihan antara Ahlussunnah dan Syi’ah, Ahlussunnah mengatakan semua para shahabat adil dan Syi’ah mengatakan para shahabat mayoritas murtad setelah meninggalnya Rasululloh sallallohu’alaihi wasallam, apakah yang seperti ini di tolerir? tidak mungkin.

Ahlussunnah yang mengatakan bahwa Al-quran itu terpelihara dan Alloh yang menjaganya, sementara kaum Syi’ah mengatakan bahwa Al-quran yang berada di tangan kaum muslimin telah berubah, nanti akan muncul mushaf fathimah azzahra yang di bawa oleh Al-imam Mahdi menurut mereka, yang seperti ini ma’asyiral muslimin rahimakumulloh tidak di perbolehkan di tolerir.

Namun ada perselisihan yang sifatnya perselisihan dalam hal pemahaman, dimana para ulama telah berselisih yang satunya mengambil istidlal dari satu riwayat, yang satunya lagi mengambil dalil dari riwayat yang lain dan terkadang dari satu dalil terkandung  perselisihan, yang satu melihat dari sisi yang lain, yang satu melihat dari sisi yang lain pula oleh karena itu kadang-kadang terjadi perselisihan, bangun dari ruku’ mana yang shahih bersedekap kembali atau di lepaskan tanpa sedekap, terjadi perselisihan masing-masing memahami dalil yang itu merupakan permasalahan classic dari para ulama dahulu.

Terjadi khilaf di kalangan para ulama apakah menggerakkan jari atau tidak  digerakkan ketika tasyahud, dalam hal-hal semacam ini ma’asyiral muslimin rahimakumullah, kalau kita telah berpegang pada satu pendapat dari dua pendapat yang telah di perselisihkan tidak perlu kita ngotot untuk bersikeras atau mengingkari dengan keras terhadap yang menyelisihi kita, kita harus berlapang dada dalam hal-hal yang semacam ini, namun pembahasan ilmiah tetap dalam artian ketika kita di berikan kemampuan melihat dalil untuk membahas sesuatu lalu kita mampu memahami dalil setelah itu kita mampu memahami masing-masing pendapat para ulama tersebut  bahwa diantara para ulama tersebut ada yang lebih menenangkan hati kita, kelihatannya saya lebih condong dengan pendapat ini dengan alasan ini dan ini. nah itulah yang wajib dilakukan oleh seorang tholibul ‘ilmi.

Kita kembali pada permasalan bahwa para ulama telah khilaf dalam hal seorang yang mendapati imam dalam keadaan ruku’ ada dua pendapat yang masyhur:

Pendapat pertama yang mengatakan seseorang yang mendapati imam dalam keadaan ruku’ maka dia di anggap telah mendapati satu raka’at. Ini pendapat mayoritas para ulama bahkan 4 imam madzhab berpendapat dengan pendapat ini dan juga di riwayatkan dari Al-Auzai dan yang lainnya, diriwayatkan pula dari beberapa shahabat diantaranya yang telah kita sebutkan tadi Ibn Mas’ud juga diriwayatkan dari Abdulloh bin Umar, ada juga yang meriwayatkan dari Ali bin Abi thalib dari Zaid bin tsabit dan yang lainnya dari para ulama, apa dalil mereka:

  1. Hadits Abu Bakrah ini yang menjadi dalil jumhur para ulama, hadits ini menjelaskan bahwa Abu Bakrah datang masuk kedalam jama’ah dalam keadaan mendapati Rasululloh sallallohu’alaihiwasallam ruku’, dan sama sekali tidak di singgung oleh Nabi dan tidak di perintahkan untuk menambah rakaatnya, Rasulullah hanya mengatakan زَادَكَ اَللَّهُ حِرْصًا وَلَا تَعُدْ tapi beliau tidak memerintahkan untuk mengulangi shalat atau menambah shalatnya, sehingga kata jumhur ini dalil yang jelas, kalaulah rakaat yang di kerjakan oleh Abu Bakrah tersebut kurang tentu Rasululloh akan memerintahkan kepada Abu Bakrah untuk mengulangi yaitu menambah  rakaat.
  2. Alasan yang ke dua adalah hadits yang di riwayatkan oleh Abu Dawud, hadits Abu Hurairah bahwa Nabi sallallohu’alaihiwasallam mengatakan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا جِئْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ وَنَحْنُ سُجُودٌ فَاسْجُدُوا وَلَا تَعُدُّوهَا شَيْئًا وَمَنْ أَدْرَكَ الرَّكْعَةَ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلَاةَ

Dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika kalian datang untuk menunaikan shalat, sedangkan kami dalam keadaan sujud, maka ikutlah bersujud, dan janganlah kalian menghitungnya satu raka’at, dan barangsiapa mendapatkan ruku’, berarti dia telah mendapatkan shalat (satu raka’at -pent).”

3. Dalil yang datang dari Ibn Khuzaimah juga dari Abu Hurairah bahwa Nabi sallallohu’alaihi wasallam mengatakan

مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصَّلاَةِ فَقَدْ أَدْرَكَهَا قَبْلَ أَنْ يُقِيْمَ الْإِمَامُ صُلْبَهُ

“Barang siapa yang mendapati imam dalam keadaan ruku’ sebelum imam itu mengangkat punggungnya maka sungguh dia telah mendapati shalat”

Ini dalil-dalil jumhur ulama pendapat pertama yang mengatakan bahwa mendapati imam dalam keadaan ruku’ terhitung satu rakaat.

Pendapat yang kedua adalah pendapat yang mengatakan tidak teranggap satu rakaat, sehingga apabila dia mendapatkan imam dalam keadaan ruku’ maka apa yang dia dapati bersama imam itu tidak teranggap satu rakaat, sehingga dia harus menambah rakaat, dan ini adalah pendapat sebagian para ulama diantaranya adalah Al-imam Al-bukhari rahimahullohuta’ala, Ibn Khuzaimah, Abu Muhammad Ibn Hazm dan di kuatkan oleh sebagian ahli tahkiq seperti Asysyaukani rahimahullohu ta’ala dalam kitabnya Nailul authar dan Syaikhuna Muqbil alwadi’i rahimahulloh beliau juga menguatkan pendapat ini dan pendapat ini diriwayatkan dari Abu Huroirah radhiallohuta’ala ‘anhu, dengan tegas beliau mengatakan:

“jangan engkau menganggap rakaat kecuali engkau mendapati imam dalam keadaan berdiri”

Sebenarnya ma’asyiralmuslimin rahimakumulloh. kalaulah di nuklkan dari kalangan shahabat, lalu tidak ada yang menyelisihi dari kalangan para shahabat, maka pendapat Jumhur adalah pendapat yang sangat kuat, telah di riwayatkan dari Ibn Mas’ud dengan sanad yang shahih sebagaimana yang telah kita sebutkan, diriwayatkan dari Ibn Umar dengan sanad yang shahih maka pendapat para jumhur adalah pendapat yang sangatn kuat apa lagi ada sebahagian para shahabat yang melakukan satu amalan dan tidak seorang pun dari para sahabat yang lain yang menyelisihinya  maka perbuatan shahabat itu adalah hujjah.

Namun kita mengatakan permasalahan ini bukan permasalahan yang tidak ada perselisishan, bahkan para shahabat pun berselisih dalam permasalahan ini, Abu Hurairah menyelisihi pendapat mereka yaitu pendapat Abu Mas’ud dan beliau dengan tegas mengatakan “Jangan kamu menganggap satu rakaat kecuali engkau mendapati Imam dalam keadaan berdiri”, Sehingga ini membutuhkan tarjih melihat mana yang kuat.

Adapun pendapat yang mengatakan tidak teranggap satu rakaat dengan beberapa dalil, diantara dalil yang merupakan dalil yang paling kuat menguatkan pendapat kedua yaitu hadits yang menjelaskan tentang suuratul fatihah sebagai rukun dalam shalat, dengan tegas Nabi sallallahu’alaihi wasallam mengatakan sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim yang diriwayatkan dari Ubadah Ibn Shomit:

لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

“tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Al-fatihah”

dan penyebutan لَا صَلَاةَ (tidak ada shalat) adalah menafikan jenis shalat tersebut, sehingga secara dhahir menunjukkan tidak sah shalat seseorang kecuali dengan Al-fatihah, sedangkan seorang yang mendapati ruku’ apakah dia membaca Al-fatihah? jawabannya tidak, dia tidak membaca Al-fatihah, berarti dia tidak mengamalkan hadits ubadah Ibn Shomit yang dengan jelas mengatakan لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ (tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Al-fatihah), ada riwayat yang lain namun ini adalah dalil yang terkuat dari pendapat yang kedua.

Lalu bagaimana dengan hadits Abu Bakrah?

Maka pendapat yang kedua ini menjawab, bahwa di dalam hadits Abu Bakrah ini sebenarya tidak ada riwayat yang jelas yang menunjukkan bahwa dia menambah rakaat atau tidak, tidak di sebutkan, yang di sebutkan bahwa Abu Bakrah radhiallohuta’ala ‘anhu datang, ketika beliau datang dan mendapati Nabi sallallohu’alaihi wasallam ruku’, maka beliau pun ruku’ kemudian selesai shalat Nabi mengatakan “siapa tadi yang berlari? Abu Bakrah mengatakan “Ana” maka Nabipun mengatakan زَادَكَ اَللَّهُ حِرْصًا وَلَا تَعُدْ , sama sekali tidak di sebutkan ketika Abu Bakrah datang pada rakaat ke berapa Nabi mengerjakan shalat, di rakaat ke berapa? kan tidak di ketahui, mungkin di rakaat kedua, mungkin di rakaat ketiga kalau itu shalat 3 rakaat, atau mungkin di rakaat yang ke 4 kalau itu shalat 4 rakaat, tidak di sebutkan.

Dan juga tidak di sebutkan pada akhirnya apakah Abu Bakrah menambah atau tidak, mungkin saja Rasululloh sallallahu’alaihi wasallam bertanya ketika Abu Bakrah menambah rakaatnya, sehingga hadits ini masih ada kemungkinan-kemungkinan, sebagian para ulama mengatakan:

“kalau masih ada kemungkinan-kemungkinan tersebut maka batal menjadikan itu sebagai dalil”

Jadi Hadits Abu Bakrah tidak jelas menunjukkan bahwa mendapati imam dalam keadaan ruku’ teranggap mendapati rakaat.

Lalu bagaimana tentang hadits Abu Hurairah yang diriwayakan oleh Abu Dawud yang mengatakan bahwa Rasululloh sallallahu’alaihi wasallam mengatakan:

إِذَا جِئْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ وَنَحْنُ سُجُودٌ فَاسْجُدُوا وَلَا تَعُدُّوهَا شَيْئًا وَمَنْ أَدْرَكَ الرَّكْعَةَ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلَاةَ

” Apa bila kalian datang dalam keadaan kami sujud, jangan kalian menganggap sedikitpun, namun barang siapa yang mendapatkan Arrok’ah maka sungguh dia telah mendapati shalat”

Maka pendapat yang kedua mengatakan hadits ini lemah, karena di dalam hadits ini terdapat seorang perowi yang bernama Yahya bin Abi Sulaiman almadani, dan dia adalah seorang perowi yang lemah sebagaimana yang di sebutkan oleh Imam Bukhori rahimahullohuta’ala. Itupun kalau hadits ini shahih, anggaplah hadits ini shahih Nabi tidak mengatakan barang siapa yang mendapati ruku, namun beliau mengatakan barang siapa yang mendapati rakaat, sedangkan penyeutan rakaat ada kemungkinan bersamaan dengan Al-fatihah. Penyebutan Rakaat yang dimaksud adalah lengkap satu rakaat termasuk Al-fatihah.

Lalu bagaimana dengan hadits yang di sebutkan oleh Ibn Khuzaimah hadits Abu Hurairah yang mengatakan:

“Barang siapa yang mendapati imam dalam keadaan ruku’ sebelum dia mengangkat punggungnya maka sungguh dia telah mendapati shalat tersebut”

Maka pendapat kedua mengatakan hadits ini juga hadits yang dhoif, dalam sanadnya ada perowi yang bernama Muhammad bin Abi Umaid Al-madani dan dia juga seorang perowi yang dhoif tidak bisa di jadikan sebagai hujjah, sehingga Wallohuta’ala a’lam saya sendiri (Ust. Askary) lebih condong kepada pendapat yang kedua, kalau antum bagaimana?

Namun sekali lagi bagi yang menganggap yang rajih adalah pendapat pertama silahkan, namun hendaknya dia membangun pendapat tersebut diatas pembahasan ilmiah, dia berusaha mempertahankan, kalau suatu saat nanti ada majlis dialog ya siap-siap, dia harus siap untuk menjawab dialog dan mempertahankan hujjahnya.

Kemudian di dalam hadits Abu Bakrah ini juga kita mendapati pelajaran bahwa di dalam islam kita di anjurkan bersemangat dalam menjalankan syariat, semangat menjalankan islam itu baik, namun semangat harus di barengi dengan ilmu, tidak hanya sekedar semangat semangat semangat, tapi dia tidak menuntut ilmu semangat tanpa ilmu ini akan menyebabkan seseorang keluar jalur, oleh karena itu di ingatkan oleh Nabi Sallallahu’alaihi wasallam

زَادَكَ اَللَّهُ حِرْصًا وَلَا تَعُدْ

“semoga Alloh memberikan kamu semangat, (tapi dalam hal kesalahan) Jangan kamu ulangi)”

dalam artian seorang di tuntut berjalan bersama semangatnya maka dia berusaha menggandengkan semangat itu dengan ilmu, oleh karena itu semangat yang di miliki oleh seseorang hendaknya diarahkan sebahagiannya atau mayoritasnya kepada ilmu, semangat belajar ini bagus sehingga dia berusaha mempelajari hukum-hukum Alloh subhanahuwata’ala yang dengan itu dia membangun amalan-amalannya di atas ilmu ini bagus.

Tapi kalau hanya sekedar semangat, diajak berjihat semangat siap mati katanya, toyyib ini ada pengajian salafy pengajian ahlussunnah menjelaskan tentang tauhid, afwan saya masih banyak urusan katanya, malas bukan main, namun dalam urusan emosi-emosi seperti itu/masalah mati maka dia berada pada baris terdepan, sehingga orang yang seperti itu dia akan menganggap sesuatu dari kebatilan itu sebagai amalan shalih, dan dia akan menganggap perbuatan merusak itu sebagai jihad fisabilillah dan itulah yang kita saksikan, mereka anak-anak muda yang semangat subhanalloh, luar biasa semangatnya untuk menjalankan islam namun idak terarahkan زَادَكَ اَللَّهُ حِرْصًا وَلَا تَعُدْ ucapan Nabi sallallahu’alaihi wasallam ini pantas untuk di berikan kepada mereka, perbuatan ngawur dan menyimpang jangan di ulangi.

Sebagian mereka semangat untuk berdakwah, taunya dakwah dakwah keluar masjid masuk masjid pindah dari satu tempat ketempat yang lain luar biasa semangatnya saking semangatnya dia rela meninggalkan keluarganya tanpa di nafkahi.

Benar apa yang di katakan Ibnu Mas’ud

الْقَصْدُ فِي السُّنَّةِ خَيْرٌ مِنْ الِاجْتِهَادِ فِي الْبِدْعَةِ

“Sederhana tapi dalam sunnah itu jauh lebih baik lebih baik dari pada semangat bersungguh-sungguh dalam perkara bid’ah”

Semangat mau jihad tapi yang di perangi kaum muslimin yang korbannya kaum muslimin, tidak ada manfaatnya, kemudhorotan yang akan dia dapatkan.

pernah ada seorang shalat setelah di kumandangkan adzan subuh maka diantara adzan dan iqamah orang ini shalat lebih dari dua rakaat, dia telah mengerjakan 2 rakaat, tambah lagi tambah lagi, rajin dia mengerjakan shalat, sementara yang di syariatkan oleh Nabi sallallahu’alaihi wasallam antara adzan dan iqamah pada waktu ubuh kan 2 rakaat, di datangi oleh Said Ibn musayyad radhiallohuta’ala ‘anhu sayyiduttabi’in dan mengingkari perbuatan tersebut, “jangan kamu melakukan perbuatan tesebut”, apa kata orang ini : “Apaka aku akan di siksa oleh Alloh karena aku mengerjakan shalat?” apa kata Said radhiallahu’anhu: “Alloh tidak akan menyiksa kamu karena mengerjakan shalat tapi Alloh akan menyiksa kamu karena menyelisihi sunnah Nabi sallallohu’alaihi wasallam”

Maka ini hujjah untuk membantah sekian banyak perbuatan bida’ah yang di kerjakan sebagian kaum muslimin dan mereka menganggap itu perbuatan yang baik, Tahlilan misalnya, masak orang mengucapkan Laailaahaillallah masuk neraka/sesat, oh bukan itu masalahnya, tapi tata caranya/metodenya, apa yang kamu lakukan tidak di contohkan oleh Nabi sallallohu’alaihi wasallam, maa Alloh akan menyiksa kamu karena kamu menyelisishi sunnah buakan karena ucapan Laailaahaillallah.

Toyyib saya kira sampai di sini insyaAlloh yang kita jelaskan, semoga Alloh subhanahuwata’ala memberikan manfaat dari apa yang telah kita pelajari. Wa akhiru da’wana anilhamdulillahirabbil’alamiin

 

Alhamdulillah dengan demikian selesailah transkrip dari ta’lim bersama Ust. Askary hafidhahulloh membahas tentang Hadits Abu Bakrah Radhiallohu’anhu, mohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan. Kita mengharap kepada Alloh ridho dan di mudahkan dalam menuntut ilmu.

Bila ied bertepatan dengan hari Jum’at


Simak dan download kajian dari kitab bulughul maram bab shalat jum’at

وَعَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ رضي الله عنه قَالَ: ( صَلَّى النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم اَلْعِيدَ, ثُمَّ رَخَّصَ فِي الْجُمُعَةِ, فَقَالَ: “مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُصَلِّ” ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ إِلَّا اَلتِّرْمِذِيَّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَة َ

Zaid Ibnu Arqom Radliyallaahu ‘anhu berkata: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sholat ‘Id, kemudian beliau memberi keringanan untuk sholat Jum’at, lalu bersabda: “Barangsiapa hendak sholat, sholatlah.” Riwayat Imam Lima kecuali Tirmidzi. Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah.

Download Kajian

Alternatif link

Download Kajian

Batas seseorang di katakan musafir


Download kajian kitab bulughul maram bab ” Batas seseorang di katakan musafir” oleh Ust. Asykari hafidhohulloh